EFEKTIFITAS MATERI PEER COACHING PADA DIKLAT IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI PENGAWAS SEKOLAH DALAM MENSUPERVISI KEPALA SEKOLAH MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH PDF  | Print |
User Rating: / 1
PoorBest 

EFEKTIFITAS MATERI PEER COACHING

PADA DIKLAT IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI PENGAWAS SEKOLAH

DALAM MENSUPERVISI KEPALA SEKOLAH MENGIMPLEMENTASIKAN

KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH

Oleh: Arju Rahmanto

(Widyaiswara LPMP Jawa Tengah)

Abstrak

Drs.Arju Rahmanto,S.Ag,M.Ag, Widyaiswara LPMP Jawa Tengah, 2015. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Mata Diklat Peer Coaching diklat Implementasi Kurikulum 2013 bagi Pengawas SD. Perilaku Supervisi pengawas sekolah kepada rekan peserta diklat dalam kegiatan pelaksanaan pebelajaran (supervisi akademik) dan pengelolaan sekolah (supervisi manajerial) dilihat keefektivitasannya. Metode yang digunakan dengan desain pre test-post test tanpa kelompok kontrol.Data diolah menggunakan t-test. Hasil berdasarkan nilai di pre-test dan post-test menunjukkan bahwa model peer coaching memiliki dampak signifikan dalam perilaku supervisi pengawas sekolah pada kegiatan penguasan kelas, proses pembelajaran dan penilaian.

Kata Kunci: peer coaching, pre-post test, t-test, diklat kurikulum 2013.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aktivitas supervisi seorang pengawas diharapkan menuju pada peningkatan mutu sekolah dan mutu pendidikan secara umum. Secara spesifik supervisi ditujukan bagi peningkatan mutu pembelajaran dan pengelolaan sekolah. Salah satu sasaran dalam supervisi manajerial adalah bagaimana cara kepala sekolah mewujudkan pengelolaan sekolah yang bermutu. Untuk mengetahui secara tepat terkait dengan pengelolaan sekolah yang bermutu sangat ditentukan oleh cara merencanakan supervisi. Materi yang dibahas pada kegiatan pembelajaran ini adalah berkaitan dengan perencanaan supervisi manajerial terkait dengan penyusunan program supervisi manajerial dan penyusunan instrumen supervisi manajerial.

Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, komite Sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak Sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini dapat berbentuk Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur stakeholder sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan.

Melihat pentignya kegiatan supervisi yang dilakukan seorang pengawas sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan pengelolaan sekolah ini, maka kompetensi supervisi ini, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial, harus benar-benar dikuasai oleh pengawas sekolah. Berkaitan dengan peningkatan kompetensi pengawas, maka dalam Diklat Implementasi Kurikulum 2013 bagi pengawas sekolah diberikan mata diklat Peer Coaching. Dengan harapan mata diklat ini dapat meningkatkan kompetensi supervisi pengawas sekolah secara langsung.

B. Permasalahan

Masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah :

Bagaimana pengaruh mata diklat peer coaching terhadap peningkatan kompetensi supervisi akademik dan supervisi manajerial pengawas sekolah pada proses pembelajaran peserta diklat kurikulum 2013 bagi pengawas SD di LPMP Jawa Tengah?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas mata diklat peer coaching terhadap peningkatan kompetensi supervisi akademik dan supervisi manajerial pengawas sekolah pada proses pembelajaran peserta diklat kurikulum 2013 bagi pengawas SD di LPMP Jawa Tengah.

II. PEMBAHASAN

A. Kurikulum 2013

Tuntutan perubahan pola pembelajaran adalah sebuah tuntutan perubahan yang harus diterima dan dijalani. Sebab, tuntutan perkembangan sains, teknologi dan seni telah menunjukkan perkembangannya yang sangat signifikan. Perkembangan sains dan teknologi telah mengubah cara belajar peserta didik. Mereka bisa mengakses informasi (ilmu pengetahuan) dari ruang pribadi mereka, dan bahkan sangat terbuka kemungkinan informasi yang dimiliki oleh peserta didik lebih daripada yang dimiliki oleh guru. Peran guru tidak bisa lagi mendominasi siswa, tetapi lebih tepat berperan sebagai patner belajar yang bisa mendampingi dan memberikan motivasi belajar, sehingga berkembang seiring dengan perkembangan usia dan norma yang berkembang dalam bermasyarakat.

Pilihan sumber belajar yang bervariasi dan latar belakang peserta didik yang beragam menjadikan mengajar sebagai sebuah seni menyampaikan dan mempengaruhi siswa belajar. Seni yang menuntut kreativitas guru dalam menentukan pilihan cara yang bervariasi dengan tetap mengedepankan pengalaman belajar siswa yang beragam, senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya sehingga menguasai (tangguh) dalam penguasaan materi.

Seluruh pengawas sekolah dan berkewajiban menerapkan supervisi pembelajaran dan manajerial yang berbasis pada kurikulum 2013 di tempat tugas masing-masing. Dengan berbekal pemahaman yang baik dan menyeluruh tentang kurikulum 2013 yang telah didapatkan sesi-sesi sebelumnya, dan berdasarkan rancangan-rancangan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya, maka kegiatan diklat diawali dengan pre-test dan penilaian diri tentang persiapan, proses dan penilaian pembelajaran dan diakhiri dengan kegiatan peer coaching oleh peserta diklat.

Melalui kegiatan peer coaching diharapkan para peserta dapat memiliki gambaran yang utuh tentang supervisi akademik dan supervisi manajerial yang berbasis kurikulum 2013. Di sisi lain peserta juga dapat mempraktekkan sekaligus dapat menilai pelaksanaan supervisi

B. Supervisi Manajerial

1. Konsep Supervisi Manajerial

Supervisi adalah kegiatan professional yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan terhadap aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademik

Dalam supervisi manajerial, pengawas berperan sebagai kolaborator, asesor, evaluator dan narasumber secara bersamaan atau bergantian. Supervisi manajerial dilaksanakan berdasarkan pendekatan proses yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan tindak lanjut.

2. Ruang Lingkup Supervisi Manajerial.

a. Pemantauan manajemen perubahan mengarah pada pencapaian 8 standar nasional pendidikan (SNP) dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah mempersiapkan akreditasi sekolah.

b. Penilaian terhadap kinerja kepala sekolah dalam hal menjadi agen perubahan pertama di sekolah dalam implementasi kurikulum 2013 sesuai dengan standar nasional pendidikan.

c. Pembinaan dilakukan pengawas tentang pengelolaan sekolah meliputi antara lain penyusunan KTSP 2013, peminatan, penerimana peserta didik baru, dsb.

d. Supervisi manajerial dalam implemetasi kurikulum berkaitan langsung dengan terselenggaranya kurikulum, di antaranya : 1).manajemen KTSP, 2).pembelajaran saintifik dan penilaian otentik, 3).manajemen ekstrakurikuler wajib dan pilihan, 4).administrasi buku guru dan buku siswa, 5).analisis ratio PTK dalam program peminatan, 6).manajemen keuangan, 7).hubungan sekolah dan masyarakat serta layanan khusus peminatan.

3. Metode Supervisi Manajerial

Metode pelaksanaan pengawasan manajerial dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode antara lain:

a. Monitoring dan Evaluasi

Metode utama yang harus dilakukan oleh pengawas Sekolah dalam kepengawasan manajerial adalah monitoring dan evaluasi. Monitoring adalah suatu kegiatan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan Sekolah, apakah sudah sesuai dengan Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademik 7 rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program (Rochiat, 2008: 115).

b. Diskusi Kelompok Terfokus (Focused Group Discussion)

Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak Sekolah, terutama kepala Sekolah, komite Sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak Sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini dapat berbentuk Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur stakeholder Sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan.

c. Metode Delphi

Digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak Sekolah merumuskan visi, misi dan tujuannya. Sesuai dengan konsep MBS. Dalam merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebuah Sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari kondisi Sekolah, peserta didik, potensi daerah, serta pandangan seluruh stakeholder.

d. Workshop

Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas dalam melakukan kepengawasan manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala Sekolah, wakil kepala Sekolah dan/atau perwakilan komite Sekolah. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama

C. Supervisi Akademik

Pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas sekolah dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru di orientasikan pada kondisi objektif pelaksanaan tugas guru dalam pembelajaran sehingga mendapatkan gambaran tentang profil kompetensi guru terutama dalam mengimplementasikan kurikulum yang berlaku. Profil kompetensi guru, diperoleh berdasarkan data hasil supervisi yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah pada tahun sebelumnya yang diselaraskan dengan tugas pokok guru dalam kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar merujuk pada kurikulum yang berlaku.

Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademik dalam konteks implementasi kurikulum yang berlaku saat ini, instrumen supervisi akademik perlu dikembangkan sesuai dengan pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, dan penilaian yang secara esensial berorientasi pada pembentukan karakter, pengembangan kreativitas dan inovasi. Sebagai contoh, penyusunan perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran oleh guru harus mengacu pada pendekatan saintifik yang merefleksikan aktivitas mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Perangkat penilaian mengacu pada penilaian otentik yang terpadu meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan dimana pelaksanaan penilaian berbasis proses, produk, dan portofolio. Dengan demikian, dalam implementasi kurikulum yang berlaku saat ini diperlukan pengawas sekolah yang dapat melaksanakan supervisi akademik dan berperan sebagai; 1) inisiator, 2) fasilitator, 3) motivator, dan 4) inspirator.

D. Coaching dengan Model GROW ME /Model GROTH

GROW ME merupakan model coaching yang berorientasi pada pengembangan manusia. Model ini dikembangkan oleh Ng (2005) dengan tahapan sebagai berikut:

 

Gambar. Teknik Coaching

1). Goals (G)- Tujuan: a). Coachee menentukan sendiri tujuan, b).Coach bertanya tentang tujuan, makna dan indikator sukses sampai tujuan. 2). Reality (R)- Realitas: a).Coachee menilai dirinya sendiri, bagaimana kondisi sekarang, dan mengapa begitu, b).Coach bertanya tentang kondisi dan alasannya, dan upaya yang pernah dilakukan. 3). Options (O) - Alternatif : a).Coachee bertanya kepada dirinya tentang solusiuntuk mencapai ujuan, b).Coach meminta coachee mengeksplorasi berbagai alternatif dan menawarkan saran-saran dengan hati-hati. 3). What’s Next/ Will (W) - Langkah Selanjutnya: a).Coachee mengungkapkan rencana alternatif pemecahan masalah berikut tahapan, serta potensi hambatan dan pemecahannya, serta alokasi waktunya, b).Coach meminta coachee memegang teguh pilihan rencana tindakan dan mengidentifikasi langkah, hambatan, dukungan, cara mengatasi, serta waktu yang diperlukan, c).Coach dan coachee membuat komitmen tentang rencana tersebut dan didokumentasikan.

4). Monitoring (M): a).Coachee mengecek dan mereview kemajuan pencapaian tujuan tahapan GROW, b).Coach bertanya tentang proses mencapai tujuan, posisi, konsitensi waktu, dukungan yang dibutuhkan, c).Coachdan coachee berbagi pengalaman tentang hasil pengamatannya, d).Coach memberi umpan balik yang kreatif, akurat, konstruktif dan memotivasi. 5). Evaluasi (E): a).Coachee mengevalausi pencapain tujuan yang telah ditetapkan dan alasannya, b).Coach bertanya tentang hasil evalusi pencapaian tujuan dan alasannya, bagian yang signifikan, serta komentar, c).Coach memberikan hasil evaluasi, bila mana hasil evalusi jauh berbeda diperlukan penyamaan persepsi dan kriteria, d).Coachee merayakan kesuksesan dan coach menyatakan dukungan atas usaha-usaha yang telah dilakukan coachee.

E. Peer Coaching (Peer Teaching)

Peer Teaching adalah teknik pelatihan guru pertama kali dikembangkan oleh Dwight
W. Allen dan rekan-rekannya di Stanford University. Sejak awal, peerteaching
telah diadopsi oleh sejumlah lembaga pendidikan guru sebagai alat yang handal dalam pelatihan guru.
Peer teaching pada diklat ini diartikan sebagai suatu kegiatan praktek mengajar yang dilaksanakan peserta pelatihan yang melibatkan 1 (satu) orang peserta sebagai guru dan rekan-rekannya sebagai siswa. Dalam dunia pendidikan, istilah “peer teaching” lebih dikenal dengan istilah “simulasi” atau “berpura-pura”.  Dengan demikian, peer teaching dapat diartikan sebagai kegiatan belajar mengajar yang dirancang secara sistemik dan sistematis dalam situasi yang tidak sebenarnya. Artinya,  kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan menggunakan subyek yang berbeda. Dimana guru dan siswa memiliki pengalaman dan rentang usia yang sama atau dapat dikatakan sebagai rekan sejawat.

Dalam peer teaching, peserta diklat menemukan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dalam menarik perhatian peserta didik, mengajukan pertanyaan, menggunakan dan mengelola waktu efektif dan menarik kesimpulan dari pembelajaran.

Selain itu, melalui peer teaching, keterampilan manajemen kelas guru meningkatkan. Mereka memperoleh keterampilan untuk memilih kegiatan belajar yang sesuai, menentukan tujuan pengajaran, dan mengatasi kesulitan yang dihadapi selama proses tersebut. Selama belajar peserta didik, pada sisi lain, peserta diklat meningkatkan keterampilan mereka dalam memberikan umpan balik dan pengukuran dan evaluasi. Selain itu, dengan mengamati penyajian teman-teman mereka mereka menemukan kesempatan untuk mengamati dan mengevaluasi pengajaran yang berbeda strateginya (Higgeins, Nicholl, 2003)

Evaluasi: Evaluasi melibatkan dua penilaian: satu demi setiap presentasi dan satu di akhir semua presentasi. Setelah setiap presentasi baik presenter dan peserta diklat diminta untuk mengevaluasi diri. Setelah semua presentasi yang membuat semua orang mengevaluasi diri mereka sendiri dan pelajaran di umum dan menentukan kemajuan yang dibuat.

Refleksi: Refleksi sangat penting. Refleksi untuk melihat kekurangan dan mengatasinya.
Dalam penelitian ini, tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh peer teaching pada
pengembangan kompetensi mengajar peserta diklat. Untuk mencapai tujuan ini,
perilaku mengajar peserta diklat pada, pengelolaan kelas, proses pengajaran dan penilaian antara pretest dan posttest dievaluasi.

Hipotesa pada penelitian ini menyatakan bahwa peer teaching dalam diklat mempunyai dampak peningkatan kompetensi bagi guru.

III. METODOLOGI

Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk membandingkan kompetensi peserta diklat tentang supervisi sebelum pemberian materi diklat peer coaching dan setelah pemberian materi diklat peer coaching.

Dalam penelitian ini, desain pre test-post test digunakan tanpa kelompok kontrol. Data diolah menggunakan excell untuk melihat t-test dan effect size.

A. Langkah-langkah metode Peer Coaching (Peer Coaching Methods)

1. Fasilitator menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui peserta diklat

2. Fasilitator membagikan instrumen pengamatan peer teaching kepada seluruh peserta.

3. Fasilitator membagi peserta diklat menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa secara merata)

4. Di dalam kelompoknya peserta belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.

5. Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.

6. Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.

7. Salah satu anggota masing-masing kelompok secara bergiliran mengajarkan hasil temuannya di hadapan kelompok lain.

8. Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll)

9. Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan

10.Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh fasilitator dan diberikan solusinya

11.Fasilitator memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap peserta seragam.

12.Penilaian dilakukan oleh fasilitator saat proses pembelajaran sedang berlangsung \

B. Obyek Penelitian

Responden adalah 40 peserta diklat kurikulum 2013 di LPMP Jawa Tengah dari Pengawas Sekolah Dasar dari perwakilan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Diklat dilakukan 6 hari dari tanggal 24 Juni sampai dengan 29 Juni 2015 di Hotel Lor In Surakarta.

C. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah instrumen yang terdiri dari 2 kompetensi yaitu supervisi manajerial dan supervisi akademik.

D. Analisis Data

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan valid dan reliabel yang
digunakan oleh peneliti dalam menentukan perilaku pengawas sekolah dalam aplikasi dan
observasi supervisi. Proses pengembangan bahan berdasarkan Pendekatan learner centered. Pertama, peserta diklat mengisi instrumen supervisi pembelajaran berdasarkan perilaku mengajar guru sehari hari ( menjadi nilai pre- test). Kemudian peserta diberikan materi tentang pelaksanaan supervisi manajerial dan pembelajaran kurkulum 2013, setelah itu peserta praktik peer coaching, nilai peer coaching ini sebagai nilai post- test.

Instrumen observasi dirancang ada 54 item terdiri dari penguasaan kelas, proses pembelajaran dan penilaian. Data pada lembar observasi yang dimasukkan pada
Program SPSS; lembar observasi pertama digunakan sebagai pre-test dan yang kedua
sebagai post-test. Perbedaan antara pre-test dan skor post-test ditentukan
menggunakan t-tes.

IV. HASIL DAN INTERPRETASI

Dalam penelitian ini, hasil yang diambil dari data yang dikumpulkan melalui bentuk-bentuk observasi 20 item proses pembelajaran. Hasilnya disajikan pada Tabel sebagai berikut ;

Tabel 2 : tentang proses pembelajaran

 

No peserta

pre test

post test

1

56

80

2

58

83

3

45

84

4

56

85

5

52

78

6

54

67

7

45

78

8

47

76

9

48

79

10

49

74

11

50

81

12

45

80

13

46

81

14

46

82

15

56

84

16

47

85

17

48

87

18

56

85

19

45

86

20

56

84

21

56

80

22

58

83

23

45

84

24

56

85

25

52

78

26

54

67

27

45

78

28

47

76

29

48

79

30

49

74

31

50

81

32

45

80

33

46

81

34

46

82

35

56

84

36

47

85

37

18

87

38

56

85

39

45

86

40

56

84

Rata –rata

50,25

80,95

Std

4.5921128

 

T test : 2.2991E-28

Effect size : 7,00073246

Tabel menunjukkan rata-rata pre-test: 50,25 sedangkan rata-rata post-test: 80,95. Standar deviasi pre-test: 4,59. Hasil t -test menunjukkan: 2,2991E-28 ada perbedaan yang berarti antara nilai pre-test dan post-test. Ini menunjukkan bahwa ada proses pembelajaran yang signifikan pada mata diklat peer coaching. Sedangkan effect size: 7,000. Hal ini menunjukkan bahwa peer coaching berdampak besar terhadap kompetensi peserta diklat pada proses supervisi manajerial dan supervisi pembelajaran (akademik) pengawas peserta diklat.

IV. KESIMPULAN

Pengawas sekolah yang aktif dalam membimbing kepala sekolah dan guru dalam pengelolaan sekolah dan pembelajaran harus mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Kepala sekolah dan guru harus dapat memilih bahan ajar dan strategi pembelajaran, merencanakan kegiatan mengajar, menentukan kegiatan pengukuran dan evaluasi, melaksanakan dan mengevaluasi mengajar (Senemoglu, 1997). Guru yang dilengkapi dengan keterampilan ini akan lebih berhasil dalam mengajar students centered.

Peer coaching merupakan strategi penting dalam diklat karena memberikan kesempatan praktek mensupervisi bagi pengawas sekolah sebagai peserta diklat. Dengan peer coaching dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri, melihat dan mengatasi kekurangan dalam proses supervisi. Penelitian ini menunjukkan peer coaching mempunyai dampak yang besar tehadap peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melakukan supervisi kepada kepala sekolah maupun guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.

REFERENSI

Aslıhan Saban, Pre-Service Teachers’ Opinions About The Micro-Teaching Method In Teaching Practise Classes,TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology – April 2013, volume 12 Issue 2

Earl Seidman ,Micro-Teaching in English Education: Some Basic Questions, University of Massachusetts

http://www.google.com/search?q=peer+teaching diakses tanggal 10 November 2014

Kilic, (2010) Learner-Centered Micro Teaching In Teacher Education International Journal of Instruction, January 2010 . Vol.3, No.1

Kemdikbud, Modul Pelatihan Kurikulum 2013, 2014

Sharmini Ghanaguru, Premalatha Nair ,Caroline Yong, Teacher Trainers’ Beliefs In Microteaching And Lesson Planning In A Teacher Training Institution, International Languages Teacher Training Institute, Malaysia The English Teacher Vol. XLII (2) August 2013

 

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 
 

Latest Comments