STUDI KOMPARASI TENTANG PEMBELAJARAN MATA DIKLAT MENGGUNAKAN TEHNIK PEMBELAJARAN PRESENTASI TANYA JAWAB DENGAN TEHNIK MODERASI PADA DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMA PROVINSI JAWA TENGAH MATA DIKLAT BIMBINGAN DAN KONSELING K PDF  | Print |
User Rating: / 0
PoorBest 

STUDI KOMPARASI TENTANG PEMBELAJARAN MATA DIKLAT

MENGGUNAKAN TEHNIK PEMBELAJARAN PRESENTASI TANYA JAWAB DENGAN TEHNIK MODERASI PADA DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMA PROVINSI JAWA TENGAH

MATA DIKLAT BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK

(28 MARET – 1 APRIL 2015)

Oleh : Drs. Arju Rahmanto, S.Ag,M.Ag

(Widyaiswara LPMP Jawa Tengah)

Abstrak : Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari seluruh proses pendidikan di sekolah, sehingga kompetensi guru bimbingan dan konseling juga harus ditingkatkan kompetensinya agar sejajar dengan guru mata pelajaran yang lain. Salah satu primadona bentuk layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah Layanan Bimbingan/Konseling Kelompok. Layanan ini menjadi primadona dari layanan bimbingan dan konseling lainnya dikarenakan layanan ini mampu mengekplorasi potensi peserta layanan dengan baik, serta solusi yang ditawarkan dari permasalahan sesuai dengan kebutuhan, sebab muncul dari teman sebaya sesama peserta layanan. Alasan inilah yang melatar belakangi materi Bimbingan/Konseling Kelompok menjadi materi pokok dalam diklat peningkatan kompetensi guru bimbingan dan konseling. Dalam penelitian ini, mata diklat tersebut diberikan dengan dua cara, yaitu Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dan Tehnik Moderasi. Dari hasil penelitian ini ternyata Tehnik Moderasi lebih berdampak positif terhadap peserta, yang dibuktikan dengan hasil t-test sebesar: .....

Kata Kunci : Bimbingan/Konseling Kelompok, Tehnik Presentasi-Tanya Jawab, Tehnik Moderasi, t-test.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kiprah bimbingan dan konseling dewasa ini tidak lagi hanya terbatas pada lingkungan pendidikan sekolah, melainkan menjangkau seting luar sekolah dan masyarakat. Dalam era kesejagatan saat ini, individu dituntut agar selalu mengembangkan dan/atau memperbaiki kecakapannya dalam memilih informasi agar dapat mengambil keputusan secara tepat. Pengembangan dan/atau perbaikan kecakapan semacam ini perlu dilakukan secara terus menerus dalam bebagai aspek kehidupan melalui proses belajar sepanjang hayat. Konseling merupakan wahana pelayanan yang mampu memfasilitasi individu dan kelompok untuk menghadapi perubahan yang pesat dan ragam informasi yang amat kompleks.

Pelayanan konseling yang diluncurkan dengan kerangka kerja kelompok dapat berbentuk Layanan Konseling  Kelompok (KKp) atau Layanan Bimbingan Kelompok (BKp). Kondisi riil di lapangan menunjukkan adanya bahwa Layanan KKp dan/atau BKp ini semakin menjadi unggulan dan primadona dalam keseleruhan penyelenggaraan program konseling. Kondisi ini terjadi karena Layanan KKp dan/atau BKp memiliki beberapa keunggulan mendasar, antara lain : (1) membantu seseorang atau sejumlah orang yang tidak siap dan terbuka secara perorangan menemui konselor, (2) memfasilitasi individu atau sekelompok individu yang lebih berani berbicara dan terbuka saat bersama-sama temannya, (3) dapat melayani sejumlah orang dalam waktu yang bersamaan, (4) menimbulkan keakraban, membangun suasana saling percaya, saling membantu, dan empati diantara sesama anggota kelompok dan konselor, (5) menemukan alternatif pemecahan masalah yang lebih banyak dan bervariasi, karena mengemukanya berbagai pemikiran dari anggota, (6) praktis, dalam arti dapat dilakukan di mana saja, di dalam ruangan atau di luar ruangan, di sekolah atau di luar sekolah, di rumah salah seorang peserta atau dirumah konselor, di suatu kantor, atau di ruang praktik pribadi konselor.

Konsekuensi logis dari perspektif yang dideskripsikan di atas adalah adanya tuntutan pelayanan KKp dan atau BKp  yang profesional. Konseling, dalam bentuk perorangan atau kelompok, esensinya  merupakan proses bantuan untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living). Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.

Konseling profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari teori dan/atau pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya.

Implikasi dari tuntutan ini adalah, para guru bimbingan dan konseling (konselor) profesional perlu dipersiapkan melalui pembekalan terprogram untuk memperoleh pengalaman mengelola KKp dan/atau BKp secara langsung dengan sejumlah kelompok klien yang bervariasi.

B. Permasalahan

Yang menjadi permasadalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana peningkatan pengetahuan peserta diklat pada Diklat Peningkatan Kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok ?

2. Apakah ada perbedaan peningkatan pengetahuan pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok yang diajarkan dengan Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dengan yang diajarkan melalui Tehnik Moderasi ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui peningkatan pengetahuan peserta diklat pada diklat peningkatan kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok.

2. Untuk mengetahui perbedaan peningkatan pengetahuan pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok yang diajarkan dengan Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dan Tehnik Moderasi.

3. Untuk mengetahui perbedaan efektifitas penggunaan tehnik pembelajaran antara Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dengan Tehnik Moderasi.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi pengelola diklat, agar menyediakan berbagai media yang digunakan oleh para fasilitator/nara sumber/instruktur dalam mengajar/memfasilitasi.

2. Bagi para fasilitator/nara sumber/instruktur untuk mampu mengembangkan tehnik fasilitasi agar pembelajaran menjadi lebih efektif.

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp)

Layanan Konseling Kelompok (KKp) dan/atau Bimbingan Kelompok (BKp) merupakan jenis layanan koseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok, dengan konselor sebagai pemimpin kelompok. Layanan ini mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan/atau pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok.

Dalam BKp dibahas topik-topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok, sedangkan dalam KKp dibahas masalah pribadi yang dialami masing-masing anggota kelompok. Baik topik umum maupun masalah pribadi itu  dibahas melalui suasana dinamika kelompok yang intensif dan konstruktif. Layanan ini dapat dilakukan di mana saja, di dalam ruangan atau di luar ruangan, di sekolah atau di luar sekolah, di rumah salah seorang peserta atau dirumah konselor, di suatu kantor, atau di ruang praktik pribadi konselor. Di manapun kedua jenis layanan ini dilaksanakan, harus terjamin bahwa dinamika kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan kelompok.

B. Thniki Presentasi-Tanya Jawab dan Tehnik Moderasi

1. Tehnik Presentasi-Tanya Jawab

Dalam pengertian sehari-hari, presentasi adalah menyajikan sesuatu, seperti ide, pemikiran, atau usulan kepada sekelompok orang secara lisan. Misalnya, mahasiswa mempresentasikan usulan penelitian, sales mempresentasikan produk, guru menyajikan pelajaran, dosen menyampaikan materi kuliah, dan sejenisnya (http://www.komunikasipraktis.com/2014/09/teknik-presentasi-pengertian-dan-tujuan.html).

Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetpi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.

( http://muktialistkipnganjuk.blogspot.com/2013/02/metode-tanya-jawab.html )

Tehnik Presentasi-Tanya Jawab yang dimaksud disini adalah tehnik fasilitasi atau tehnik pembelajaran sebuah mata diklat dalam sebuah pelatihan atau diklat dengan cara fasilitator atau pengajar menyampaikan materi melalui presentasi dengan media power point dilanjutkan tanya jawab antara fasilitator dengan para peserta diklat.

2. Tehnik Moderasi

Tehnik Moderasi adalah suatu cara berdiskusi dalam kelompok yang mengutamakan keterlibatan aktif semua peserta untuk mendapatkan hasil akhir yang efektif dan efisien, dan merupakan sistem dari suatu teknik dan metode pelaksanaan diskusi kelompok yang membutuhkan pemandu. Pemandu tersebut mengarahkan dan membidani pemecahan masalah atau alternatif pemecahan masalah. Metode moderasi saat ini merupakan metode yang sangat populer karena telah  terbukti kesuksesannya sebagai metode yang digunakan dalam kelompok dan juga sebagai salah satu instrumen untuk memperbaiki sikap kerja sama.

(http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/edukasi/486-ayo-belajar-metode-moderasi ).

Metode moderasi ini dapat digunakan oleh siapa saja yang ingin memecahkan masalah dengan cara berdiskusi dalam kelompok yang mengutamakan keterlibatan aktif semua peserta dan mendapatkan hasil akhir yang efektif dan efisien. Dan metode moderasi ini dapat dilakukan, baik di dalam lembaga pendidikan, dunia kerja maupun dalam masyarakat.

Metode moderasi sebagai metode yang menuntut keterlibatan aktif semua peserta memiliki tujuan antara lain mengarahkan pada kemampuan peserta dalam berkomunikasi secara vebal maupun non verbal, melatih kemampuan peserta untuk mengemukakan apa yang sedang dipikirkan berkaitan dengan tema yang dibahas, menumbuhkan kebiasaan untuk menvisualisasi komentar atau ide secara logis, meningkatkan  sikap kerja sama, mengembangkan efisien dan efektivitas dalam berdiskusi, menumbuhkan kesadaran dalam melihat kondisi, menumbuhkan rasa percaya diri peserta dan mengarahkan pada kemampuan berpikir yang logis dan berkelanjutan.

C. Menghitung T-test

Instrumen yang digunakan untuk menghitung t-tes adalah : 1) instrumen Pre Test, bertujuan untuk mengukur kemampuan awal peserta sebelum mengikuti mata diklat, dan 2) instrumen Post Test bertujuan mengukur hasil belajar peserta setelah mengikuti diklat. Hasil Pre/Post Test di analisis dan hasilnya digunakan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan diklat.

Selanjutnya untuk menghitung t-test menggunakan aplikasi exell di komputer dengan langkah sebagai berikut :

1. Masukkan data yang telah didapat kedalam Worksheet Excel

2. Pada menu bar, klik (fx)

3. Pilih kategori (statistical)

4. Pilih T-TES, klik (OK)

5. Letakkan kursor di array 1 lalu blok pada kolom skor Pre-test

6. Letakkan kursor di array 2 lalu blok pada kolom skor Post –test

7. Ketik 2 pada kolom tails

8. Ketik 1 pada kolom type

9. Klik pada OK

10. Maka akan muncul nilai p-value dari t-test

Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut ini :

 

 

Catatan :

 

  • p disebutkan probability value atau significance level (tingkat signifikansi): tingkat kepercayaan terhadap hasil yang diperoleh

 

  • Secara umum p diambil 5%, kecuali untuk penelitian kesehatan 1% karena berhubungan dengan kesehatan atau nyawa sehingga toleransi kesalahan hanya 1%. Artinya toleransi kesalahan dari hasil suatu perlakuan hanya 1%. 1 % = 1 dari 100 kasus.

Interpretasi hasil penghitungan T-Tes adalah sebagai berikut :

Jika t-test (p value) ≤ 0,05....maka dinyatakan bahwa telah terjadi peningkatan belajar pada peserta dengan keyakinan 95%

Jika t-test (p value) > 0,05....maka dinyatakan bahwa tidak terjadi peningkatan belajar pada peserta dengan keyakinan 95%

Apabila peserta kurang dari 10 orang, maka untuk mengetahui terjadi atau tidaknya pembelajaran tidak dengan menggunakan rumus T-Tes, tetapi menggunakan rumus Learning Gain (LG). Rumus LG ini adalah:

 

 

III. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk membandingkan kompetensi peserta diklat tentang mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok yang diberikan dengan Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dengan menggunakan Tehnik Moderasi. Kelas A dengan Tehnik Presentasi-Tanya Jawab dan kelas B dengan Tehnik Moderasi. Kedua kelompok kelas dianggap seimbang sebab berasal dari guru Bimbingan Konseling SMP se-Jawa Tengah dengan kualifikasi pendidikan yang sama, yaitu Sarjana Bimbingan dan Konseling.

Dalam penelitian ini, desain pre test-post test digunakan tanpa kelompok kontrol. Data diolah menggunakan aplikasi excell untuk melihat t-test .

A. Langkah-langkah Tehnik Presentasi-Tanya Jawab

  1. Belom pembelajaran, diadakan pre-test bagi peserta diklat
  2. Fasilitator menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui peserta diklat
  3. Fasilitator menjelaskan materi diklat dengan menggunakan media presentasi power point
  4. Setelah selesai menjelaskan diadakan tanya jawab seputar materi yang disampaikan antara fasilitator dengan peserta diklat
  5. Peserta diklat yang lain dapat menanggapi pertanyaan peserta lain
  6. Fasilitator memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap peserta seragam.
  7. Penilaian dilakukan oleh fasilitator setelah pembelajaran selesai dengan diberikan post-test.

B. Langkah-langkah Tehnik Moderasi

1. Sebelum pembelajaran diadakan pre-test.

2. Fasilitator menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui peserta diklat

3. Fasilitator membagikan kertas moderasi yang terdiri dari kertas plano, post-it, kertas asturo warna-warni, folio warna-warni, spidol warna-warni, selotip, dan lain-lain kepada seluruh peserta.

4. Fasilitator membagi peserta diklat menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 peserta secara merata)

5. Fasilitator menunjuk salah satu anggota kelompok untuk menjadi moderator/pengarah kelompok.

6. Fasilitator memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh para peserta dalam kelompok, yang berkaitan dengan materi diklat.

7. Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.

8. Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.

9. Menuliskan hasil diskusinya dalam kertas warna-warni dan dengan tulisan warna-warni yang ditempelkan dalam kerta plano yang ditempel di dinding kelas

10.Salah satu anggota masing-masing kelompok diberi tugas menjaga stannya, yang bertugas menjawab pertanyaan kelompok lain

11.Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll) atas hasil kerja kelompok lain, dengan bergiliran.

12.Fasilitator memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap peserta seragam.

13.Penilaian dilakukan oleh fasilitator dengan memberikan post-test diakhir season.

B. Obyek Penelitian

Responden adalah 40 orang kelas A dan 40 orang kelas B peserta diklat Peningkatan Kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling SMA 2015, yang diselenggarakan tanggal: 28 Maret s.d 1 April 2015, di LPMP Jawa Tengah dari perwakilan SMA Kabupaten/Kota di Jawa Tengah..

C. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah instrumen pre-test dan post-test untuk mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok, kelas A dan Kelas B.

D. Analisis Data

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan valid dan reliabel yang
digunakan oleh peneliti dalam menentukan perilaku Guru Bimbingan dan Konseling dalam teori dan aplikasi mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok. Proses pengembangan bahan berdasarkan Pendekatan learner centered. Pertama, peserta diklat mengerjakan soal-soal sebelum pembelajaran ( menjadi nilai pre- test). Kemudian peserta diberikan materi tentang Bimbingan dan Konseling Kelompok, kelas A dengan tehnik Presntasi-Tanya Jawab dan kelas B dengan menggunkan tehnik Moderasi, setelah itu peserta menjawab soal-soal setelah pembelajaran sebagai nilai post- test. Instrumen soal pre-test dan post-test dirancang sesuai dengan materi mata diklat yang diajarkan. Perbedaan antara nilai pre-test dan post-test ditentukan menggunakan t-tes. Hasil t-test antara kedua kelompok tersebut kita bandingkan dengan menghitung t-test antara hasil t-test kelas A dan t-test kelas B.

IV. HASIL DAN INTERPRETASI

A. Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini, data diambil dari hasil pre-test dan post-test baik dari kelas A yang pembelajarannya menggunakan tehnik Presentasi-Tanya Jawab dan kelas B yang menggunakan tehnik Moderasi. Dari hasil pre-post test tersebut, masing-masing dihitung t-test nya. Hasil t-test masing-masing kelas, yaitu kelas A dan kelas B selanjutnya dibandingkan hasil perhitungan t-test nya.

Hasilnya disajikan pada Tabel sebagai berikut ;

Tabel 1 : Hasil Pre-Post Test dengan tehnik Presentasi-Tanya Jawab

No peserta

pre test

post test

1

70

74

2

66

80

3

55

73

4

47

82

5

49

80

6

46

74

7

56

76

8

64

79

9

65

74

10

56

76

11

65

74

12

54

82

13

42

81

14

57

80

15

53

75

16

43

70

17

64

72

18

47

68

19

52

70

20

45

72

21

56

80

22

58

73

23

45

74

24

56

75

25

52

78

26

54

67

27

45

78

28

47

76

29

48

79

30

49

74

31

50

71

32

45

80

33

46

81

34

46

72

35

56

74

36

47

75

37

48

77

38

56

75

39

45

76

40

56

74

RATA-RATA

52.525

75.525

T-TEST

3.75129E-20

Tabel 2 : Hasil Pre-Post Test dengan tehnik Moderasi

No peserta

pre test

post test

1

67

74

2

56

85

3

45

83

4

47

82

5

49

90

6

46

74

7

56

76

8

64

89

9

65

74

10

56

76

11

65

74

12

54

82

13

42

81

14

57

80

15

53

65

16

43

70

17

64

72

18

47

68

19

52

70

20

45

72

21

56

80

22

58

83

23

45

84

24

56

85

25

52

78

26

54

67

27

45

78

28

47

76

29

48

79

30

49

74

31

50

81

32

45

80

33

46

81

34

46

82

35

56

84

36

47

85

37

48

87

38

56

85

39

45

86

40

56

84

RATA-RATA

51.95

78.9

T-TEST

1.83021E-20

Tabel 1 menunjukkan rata-rata pre-test 52.525 sedangkan rata-rata post-test 75.525. Standar deviasi pre-test 8,106 sedangkan standar deviasi pada post-test 6,877. Hasil t test menunjukkan perbedaan yang berarti antara nilai pre-test dan post-test 3.75129E-20, sedangkan effect size 2,862. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdampak signifikan terhadap kompetensi peserta diklat pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok dengan menggunakan tehnik pembelajaran Presentasi-Tanya Jawab.

Tabel 2 menunjukkan rata-rata pre-test 51,95 sedangkan rata-rata post-test 78,9. Standar deviasi pre-test 8,106 sedangkan standar deviasi pada post-test 6,877. Hasil t-test menunjukkan perbedaan yang berarti antara nilai pre-test dan post-test 1.83021E-20, sedangkan effect size 2,862. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdampak signifikan terhadap kompetensi peserta diklat pada mata diklat Bimbingan dan Konseling Kelompok dengan menggunakan tehnik Moderasi.

Tabel 3 : Penilaian

Kelas

t-test

A

3.75129E-20

B

1.83021E-20

Perbedaan

1.92108E-20

Tabel 3 menunjukkan t-test kelas A (pembelajaran diklat dengan menggunakan tehnik Presentasi-Tanya Jawab) adalah 3.75129E-20 sedangkan t-test kelas B (pembelajaran diklat dengan tehnik Moderasi) hasil t-test adalah 1.83021E-20. Hal ini menunjukkan perbedaan yang berarti antara kelas A dan kelas B yaitu 1.92108E-20.

B. Interpretasi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran diklat kelas B lebih baik dalam meningkatkan kompetensi peserta diklat dibanding dengan pelaksanaan pembelajaran diklat kelas A.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran diklat dengan menggunakan tehnik Moderasi lebih baik meningkatkan kompetensi peserta diklat dibanding dengan pelaksanaan pembelajaran diklat dengan menggunakan tehnik pembelajaran Presentasi-Tanya Jawab.

B. Saran

Disarankan kepada seluruh fasilitator/ narasumber/ pengajar dalam setiap diklat, untuk selalu menggunakan tehnik fasilitasi/pembelajaran diklat yang bervariasi, agar peningkatan kompetensi peserta diklat dapat meningkat dengan optimal.

Daftar Pustaka

1. Gazda, George M. 1984. Group Counseling A developmental Approach. Third

Edition.  Toronto : Allyn And Bacon, Inc.

2. Prayitno, 1995. Layanan Bimbingan&Konseling Kelompok :Dasar &Profil. Cetakan

Pertama. Jakarta : Ghalia Indonesia.

3. Prayitno. 2005. Layanan Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok. Padang : FIP

Universitas Negeri Padang

4. (http://www.komunikasipraktis.com/2014/09/teknik-presentasi-pengertian-dan-tujuan.html), diunduh pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2015, pukul.10.30 WIB.

5. ( http://muktialistkipnganjuk.blogspot.com/2013/02/metode-tanya-jawab.html ), diunduh pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2015, pukul.10.30 WIB.

6. (http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/edukasi/486-ayo-belajar-metode-moderasi ), diunduh pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2015, pukul.10.30 WIB.

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 
 

Latest Comments