MENGUKUR RELEVANSI DAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN PADA DIKLAT PENYIAPAN CALON KEPALA SEKOLAH (PCKS) KABUPATEN TABANAN PROVINSI BALI DENGAN MENGGUNAKAN EVALUASI PELATIHAN METODE KIRKPATRICK LEVEL-1 PDF  | Print |
User Rating: / 0
PoorBest 

MENGUKUR RELEVANSI DAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN PADA DIKLAT PENYIAPAN CALON KEPALA SEKOLAH (PCKS) KABUPATEN TABANAN PROVINSI BALI DENGAN MENGGUNAKAN EVALUASI PELATIHAN

METODE KIRKPATRICK LEVEL-1

Oleh : Drs.Arju Rahmanto, S.Ag,M.Ag

(Widyaiswara LPMP Jawa Tengah)


Abstrak :

Arju Rahmanto, Widyaiswara LPMP Jateng (2015). Dalam setiap pelatihan akan selalu diukur keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Salah satu bentuk keberhasilan pelaksanaan diklat adalah reaksi positif para peserta diklat terhadap penyelenggaraan diklat. Apabila peserta diklat merespon positif pelaksanaan diklat, diharapkan terjadi proses pembelajaran dengan hasil yang maksimal. Salah satu metode evaluasi yang digunakan dalam diklat adalah metode Kirkpatrick. Metode ini terdiri dari 4 level, hanya saja yang digunakan dalam penelitian ini adalah level 1 (reaction) saja, akan mengetahui relevansi dan efektifitas pelatihan. Instrumen yang digunakan adalah Instrumen Evaluasi Peserta. Hasil dari analisis data kuantitatif diperoleh keseimpulan, bahwa tingkat relevansi pelatihan adalah: 82,8% dan tingkat efektifitas pelatihan adalah: 88,1%.

Kata Kunci :

Metode evaluasi Kirkpatrick, Level 1 : Reaction, relevansi dan efektifitas.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan suatu proses pengalihan pengetahuan melalui pelatihan memerlukan evaluasi untuk menunjukkan apakah tujuan pelatihan telah tercapai. Evaluasi pelatihan merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. Kompetensi menurut Sofo (2003) dapat didefenisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan, keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya .Oleh sebab itu evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick (1994) adalah untuk menentukan efektifitas dari suatu program pelatihan. Bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan pos tes).

Efektifitas pelalihan menurut Newby (lrianto, 2001) berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. Oleh karena itu menu rut Tovey sebagaimana yang dikutip Irianto (2001 ), evaluasi pelatihan secara komprehensif adalah pengumpulan informasi tentang program pelatihan, peserta pelatihan, pelatih atau fasilitator, desain, metode, sumberdaya dan sarana yang digunakan serta dampak dari pelatihan.

Dari sisi tujuan evaluasi, ada evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesenjangan suatu program, tingkat efektifitas suatu program, ada pula evaluasi yang bertujuan untuk menemukan hasil suatu program di luar tujuan program yang direncanakan. Dari sisi program, seandainya kita persempit menjadi program pendidikan, ada program pendidikan dengan term waktu yang panjang dengan cakupan bidang garapan program yang luas dan tujuan program yang komprehensif, seperti penyelenggaraan kegiatan persekolahan formal. Ada pula program pendidikan dengan term waktu yang singkat dengan bidang garapan yang lebih spesifik serta memiliki tujuan program yang lebih sempit. Contoh program ini adalah program diklat, kursus, dan pelatihan. Salah seorang tokoh yang mencoba memperkenalkan model evaluasi untuk program-program short-term dengan bidang garapan dan tujuan yang spesifik adalah Kirkpatrick. Dengan menggunakan model evaluasi Kirkpatrick ini, peneliti akan menganalisis tingkat relevansi dan efektifitas pelaksanaan diklat Penyiapan Calon Kepala Sekolah Kabupaten Tabanan Provinsi Bali.

B. Permasalahan

Yang menjadi permasadalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana reaksi peserta diklat pada diklat PPCKS Kab.Tabanan terhadap pelaksanaan diklat, yang ditunjukkan dengan tingkat efektifitas dan relevansi pelatihan ?

2. Berapa besar tingkat efektifitas dan relevansi diklat PPCKS Kab. Tabanan tahun 2015 ?

3. Masalah ini dibatasi untuk mengetahui seberapa besar efektifitas dan relevansi pelatihan PPCKS Kab. Tabanan tahun 2015 menggunakan Instrumen Evaluasi Peserta yang dianalisis dengan model Kirkpatrick level 1.

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui reaksi peserta pelatihan diklat PPCKS Kab.Tabanan tahun 2015 terhadap pelaksanaan pelatihan.

2. Untuk mengetahui besarnya efektifitas dan relevansi pelatihan PPCKS Kab.Tabanan tahun 2015.

D. Manfaat Pelatihan

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi penyelenggara diklat agar dapat mengetahui besarnya efektifitas dan relevansi pelatihan untuk perbaikan penyelenggaraan diklat selanjutnya.

II. KAJIAN TEORI

A. EVALUASI PROGRAM PELATIHAN MODEL KIRKPATRICK

Model Kirkpatrick dirancang sebagai urutan cara untuk mengevaluasi program pelatihan. Model evaluasi pelatihan Kirkpatrick merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil

1. Reaction
Apa yang dirasakan peserta tentang pelatihan tersebut atau apakah peserta menyukai proses pelatihan tersebut? Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Berikut indikator-indikator dari komponen-komponen tersebut:

a. Instruktur pelatihan

b. Faslisitaspelatihan

c. Jadwal pelatihan

d. Media pelatihan

e. Materi pelatihan

f. Konsumsi selama pelatihan

g. Pemberian latihan dan tugas

h. Dan aspek lain yang relevan dengan pelatihan saat itu

2. Learning

Apa yang dipelajari oleh peserta, hasilnya adalah peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta perubahan tingkah laku. Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

3. Behavior

Perubahan kinerja setelah mengikuti pelatihan atau pengaplikasian apa yang diperoleh di pelatihan ke pekerjaan. Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

4. Result

Hasil akhir yang diperoleh karena mengikuti pelatihan. Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

Keempat level Model Evaluasi Kirkpatrick tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :

 

B. INSTRUMEN

Dalam penelitian ini hanya membahas model Kirkpatrick ini pada level 1 dan level 2 saja. Hal ini sesuai dengan tuntutan yang dibutuhkan di lapangan. Instrumen yang digunakan dalam evaluasi pelatihan model Kirkpatrick level 1 dan level 2 adalah sebagai berikut :

1. Instrumen Level 1 : Reaction

a. Smiley Face

Instrumen ini bertujuan untuk mengukur kepuasan peserta terhadap proses pembelajaran. Instrumen ini digunakan secara berselang-seling dengan instrumen Bull’s Eye selama kegiatan. Penggunaan instrumen ini adalah sebagai berikut:

1) Panitia menggandakan instrumen Smiley Face dan dimasukkan ke dalam amplop yang bertuliskan identitas “Jenis Instrumen, Hari, Tanggal, Kelas, Nama Pelatihan”;

2) Pelatih dibantu oleh pengawas membagikan instrumen Smiley Face;

3) kepada seluruh peserta (KS/M) pada hari pertama, ketiga, dan kelima;

4) Pelatih menjelaskan cara pengisian instrumen Smiley Face sebelum sesi terakhir ditutup;

5) Peserta mengisi instrumen Smiley Face dan pelatih memastikan bahwa seluruh peserta (KS/M) telah mengisi instrumen tersebut;

6) Pelatih segera mengumpulkan kembali instrumen Smiley Face yang telah diisi peserta (KS/M);

7) Pelatih melakukan rekapitulasi dan analisis data survey Smiley Face sebagai bahan refleksi dan perbaikan pembelajaran selanjutnya;

8) Pelatih menindaklanjuti hasil analisis data survey Smiley Face untuk perbaikan pembelajaran keesokan harinya;

9) Pelatih menyerahkan instrumen Smiley Face yang telah direkapitulasi kepada Panitia Kelas untuk didokumentasikan.

b. Bull’s Eye

Instrumen ini bertujuan untuk mengukur kepuasan peserta terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan kegiatan secara menyeluruh. Instrumen ini digunakan secara berselang-seling dengan instrumen Smiley Face selama kegiatan In-1. Penggunaan instrumen ini adalah sebagai berikut:

1) Panitia Kelas berkoordinasi dengan pelatih untuk menyiapkan/membuat instrumen Bull’s Eye. Instrumen Bull’s Eye digunakan pada hari kedua dan keempat;

2) Pelatih menjelaskan cara pengisian instrumen Bull’s Eye sebelum sesi terakhir ditutup;

3) Aspek-aspek yang dinilai dalam Bull’s Eye adalah (a) Materi/Bahan Pelatihan, (b) Strategi/Metode Pelatihan, (c) Penguasaan Materi oleh Pelatih, (d) Alokasi Waktu, (e) Media Pembelajaran, (f) Organisasi Kelas, (g) Respon Pelatih, dan (h) Efektifitas kelompok belajar;

4) Peserta mengisi instrumen Bull’s Eye ketika hendak meninggalkan ruang kelas. Sedangkan pelatih memastikan bahwa seluruh peserta telah mengisi instrumen tersebut;

5) Semua pelatih mencermati dan mendeskripsikan Instrumen Bull’s Eye yang telah terisi. Hasil deskripsi data Bull’s Eye digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran dan penyelenggaraan kegiatan selama pelatihan;

6) Pelatih dan penanggung jawab kegiatan menindak lanjuti hasil deskripsi Bull’s Eye dengan melakukan perbaikan kegiatan keesokan harinya;

7) Pelatih menyerahkan instrumen Bull’s Eye ke Panitia Kelas untuk didokumentasikan.

c. Instrumen Evaluasi Pelatihan

Tujuan instansi Pelaksana melakukan evaluasi pelatihan adalah untuk mengetahui tingkat efektifitas dan relevansi pelatihan dengan tupoksi KS/M. Instrumen ini, terdiri atas dua bagian yaitu berupa isian skala bertingkat (1-5) dan uraian jawaban. Penggunaan instrumen ini adalah sebagai berikut:

1) Panitia Kelas menggandakan Instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 oleh Peserta dan dimasukkan ke dalam amplop yang bertuliskan identitas “Jenis Instrumen, Hari, Tanggal, Kelas, Jenis Pelatihan”. Instrumen ini digunakan di hari terakhir pelatihan;

2) Pelatih dibantu Panitia, membagikan Instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 kepada peserta;

3) Pelatih menjelaskan cara pengisian Instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 oleh Peserta;

4) Peserta mengisi Instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 dan pelatih memastikan bahwa seluruh peserta mengisi instrumen tersebut;

5) Pelatih dibantu Panitia, mengumpulkan kembali instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 oleh peserta;

6) Pelatih segera menyerahkan Instrumen Evaluasi Pelatihan In-1 oleh peserta yang sudah terisi kepada Panitia Kelas untuk diinputkan ke dalam SIM Diklat;

7) Panitia Kelas melakukan input data Evaluasi Pelatihan In-1 dan analisis data yang berupa skala rating selambat-lambatnya pada hari terakhir pelaksanaan In-1;

8) Pelatih melakukan analisis data Evaluasi Pelatihan In-1 yang berupa uraian jawaban dan menginterpretasikan. Hasil analisis dan interpretasi diserahkan kepada penanggung jawab kegiatan melalui operator data paling lambat satu minggu setelah Pelatihan In-1 berakhir.

2. Instrumen Level 2 : Learning

Instrumen yang digunakan dalam mengevaluasi pelatihan model Kirkpatrick level 2 adalah Pre Test dan Pos Test. Instrumen Pre Test, bertujuan untuk mengukur kemampuan awal peserta sebelum mengikuti PKB KS/M, sedangkan Post Test bertujuan mengukur hasil belajar peserta setelah mengikuti PKB KS/M. Hasil Pre/Post Test di analisis dan hasilnya digunakan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan In-1. Penggunaan instrumen ini adalah sebagai berikut:

a. Panitia menggandakan Instrumen Pre/Post Test dan lembar jawaban dimasukkan ke dalam amplop bertuliskan identitas “Jenis Instrumen, Hari, Tanggal, Kelas, Jenis Pelatihan”;

b. Waktu pelaksanaan pengisian instrumen Pre/Post Test sesuai Panduan Pelatihan;

c. Pelatih dibantu oleh pengawas membagikan instrumen & lembar jawaban Pre/Post Test kepada seluruh peserta;

d. Pelatih menjelaskan cara pengisian lembar jawaban Pre/Post Test kepada peserta;

e. Peserta mengisi lembar jawaban Pre/Post Test sesuai dengan waktu yang telah ditentukan;

f. Pelatih mengumpulkan instrumen Pre/Post Test dan lembar jawaban yang telah terisi. Selanjutnya memeriksa dan menilai lembar jawaban Pre/Post Test sebagai back up data;

g. Panitia kelas mendokumentasikan instrumen dan jawaban Pre/Post Test setelah data diinput;

h. Pelatih memanfaatkan hasil Pre test sebagai acuan dalam memberikan perlakuan tertentu dalam pelatihan, sedangkan hasil Post test akan digunakan untuk mengukur hasil belajar dan peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti kegiatan In-1.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Untuk menghitung relevansi dengan rumus :

Jumlah rerata persentase peserta yang menilai pertanyaan 1 + 6 (Q1+Q6)

diatas average dibagi 2 = (Q1+Q6)

2

Q1= 31,3 % + 64,1 %= 95,4% + Q6= 15,6 % + 54,7 % = 70,3% = (95,4% + 70,3%)/2 = 82,8%

Untuk mengukur efektifitas dengan rumus :

Jumlah Rerata persentase peserta yang menilai pertanyaan 2 - 5 (Q2+Q3+Q4+Q5)

diatas average = (Q2+Q3+Q4+Q5)

4

Q2= 32 % + 57,8 % + Q3= 15,6 % + 72,7 % + Q4= 14,8 % + 69,5 % + Q5= 16,4 % + 73,4 % = (Q2+Q3+Q4+Q5)/4 = 89,8 % + 88,3 % + 84,3% + 89,8% = 88,1%

B. Pembahasan

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh hasil, relevansi sebesar: 82,8% dan efektifitas sebesar: 88,1%. Ini bermakna bahwa hasil diklat PPCKS (Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah) Kabupaten Tabanan Provinsi Bali, tingkat relevansi materi diklat dengan kebutuhan peserta adalah sebesar: 82,8 %, serta efektifitas pelaksanaan diklat selama 8 hari adalah sebesar: 88,1 %. Dengan hasil demikian menunjukkan bahwa masih dibutuhkan perbaikan pada materi diklat dan pelaksanaan diklat yang akan datang agar hasilnya lebih tinggi lagi.

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa relevansi dan efektifitas diklat PPCKS Kabupaten Tabanan Provinsi Bali dinyatakan besar. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Hasil relevansi sebesar: 82,8%.

2. Hasil relevansi sebesar: 88,1%.

3. Dengan hasil demikian menunjukkan bahwa masih dibutuhkan perbaikan pada materi diklat dan pelaksanaan diklat yang akan datang agar hasilnya lebih tinggi lagi

B. Saran

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada kesimpulan di atas, saran yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

1. Bagi LPMP Jawa Tengah, Perlu memprogramkan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi calon kepala sekolah peserta diklat PPCKS.

2. Bagi Pengawas Sekolah, hendaknya membimbing dan mendampingi Calon Kepala Sekolah dalam menerapkan program PPCKS.

3. Bagi Calon Kepala Sekolah, hendaknya menerapkan hasil diklat sesuai rencana tindak lanjut yang disusun dan terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan terkait materi yang diperoleh dalam diklat.

Daftar Pustaka:

McDavid & Hawthorm. (2006). Program Evaluation & Performance Measurement An Introduction to Practice. SAGE Publications.

Kruse, Kevin. (2000). Technology-based Training: The Art and Science of Design, Development and Delivery. Jossey-Bass Publish.

Center Partners. (2006). Implementing the Kirkpatrick Evaluation Model Plus. Diambil pada tanggal 2 November 2008, dari http://www.coe.wayne.edu/eval/pdf

Kirkpatrick, Donald. 1998. Evalaution Training Programs: The Four Level. Second Edition. San Fransisco: Berrett-Koehler Publisher, Inc Naugle. (2000).

Kirkpatrick’s Evaluation Model as A Mean of Evaluation Teacher Performance. Diambil pada tanggal 2 November 2008, dari http://www.findarticles.com/p/articles

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 
 

Latest Comments