Monday, September 22, 2014
   
Text Size

Search

Total Dibaca: 1842

KTI WI ANALISIS DAMPAK DIKLAT PENJASORKES

User Rating: / 1
PoorBest 

DAMPAK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GURU  MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN TERHADAP PENINGATAN KEMAMPUAN MENYUSUN SILABUS DAN RPP DI  LPMP JAWA TENGAH TAHUN 2012

Oleh

H a r u n

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

 

ABSTRAK

 

Sesuai dengan Permenpan RB no. 16 tahun Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya bahwa tugas utama guru dalam kegiatan pembelajaran adalah menyusun rencana pembelajaran,melaksanakan pembelajaran yang bermutu,menilai dan mengevaluasi pembelajaran,menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik.Agar guru memiliki kemampuan tersebut dii atas salah satu upaya adalah dengan menyelenggarakan Diklat.Agar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat efektivitas diklat perlu dilakukan penelitian khususnya seberapa jauh dklat yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah tahun 2012 mampu meningkatkan tingkat pengetahuan dan keterampilan menyusun silabus dan RPP(rencana pelaksanaan pembelajaran)

Subjek penelitian ini adalah peserta diklat peningkatan kompetensi guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan tahun 2012 yang terdiri dari guru SD,SMP,dan SMA.Tidak seluruhnya semua peserta diklat digunakan sebagai subjek penelitian,tetap menggunakan sampling,masing-masing di ambil satu kelas sebagai sampel penelitan.

Setiap peserta diklat dari masing-masing satuan pendidikan secara acak/random dipilih satu kelas yang akhirnya digunakan sebagai subjek penelitian.Data yang diperoleh ada dua macam yaitu kemampuan menyusun silabus dan RPP bersifat kualitatif,dan hasil pre tes serta pos tes bersifat kuantitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan guru (SD,SMP,SMA)dalam menyusun silabus dan RP,hal ini dapat diketahui antara silabus dan RPP yang dibuat sebelum dklat dibanding dengan silabus dan RPP yang dibuat setelah diklat.Kompetensi pengetahuan (kognitif)tentang Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan juga meningkat yaitu:untuk rerata guru SD dari nilai 5,28 naik menjadi 5,97,guru SMP dari nilai 44,58 naik menjadi 49,16,dan guru SMA dari nilai 5,15 naik menjadi 5,77.

 

Kata kunci: Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan,Silabus,RPP.


BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pada Peraturan Menteri no.22 tahun 2006 tentang standar isi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dikatakan bahwa “Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral,aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional”.

Oleh karena itu pendidikan jasmani harus dimaknai untuk membekali pengalaman belajar siswa yang diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan  perkembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat,bugar sepanjang hayat.

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus dapat menjadi media yang mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Seiring dengan pergantian kurikulum serta peraturan perundangan di dunia pendidikan maka guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan(penjasorkes) di  tingkat satuan pendidikan  SD,SMP,SMA/SMK perlu senantiasa meng up date/memperbarui sikap pengetahuan dan keterampilannya. Pada perubahan peraturan/perubahan perundangan terjadi juga perubahan istilah dan makna penjasorkes yang digunakan. Kekeliruan dalam mmahami istilah/makna tentang pendidikan jasmani dapat  berakibat kurang tepat pada kegiatan pembelajaran .

Berbagai model pembelajaran pun banyak mengalami kemajuan/perkembangan.Tidak menutup kemungkinan pada saat guru masih kuliah belum memperoleh materi  model/metode/teknik pembelajaran yang sekarang banyak diterapkan.

Pada permendiknas no.41 tahun 2007 tentang standar proses di katakan ”Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun  RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Ada beberapa pendapat yang kurang tepat tentang penjasorkes yang masih kita dengar, antara lain adalah :a. Mapel penjasorkes tidak masuk pada mapel yang di UN  (ujian nacional)kan, b. Dana dari pemerintah terbatas, c. Mapel penjasorkes adalah mapel yang kurang penting bagi masa depan anak, d. Mapel penjasorkes hanya berkutat pada urusan jasmani saja, e. Sumbangan penjasorkes terhadap pencapaian tujuan pendidikan secara menyeluruh kurang nyata.

Perlu dipahami bahwa Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis  yang seimbang.(permendiknas no.22 tahun 2006)

Hasil pembelajaran penjasorkes yang optimal dapat tercapai jika didukung oleh sikap progesional  dan kompetensi guru yang baik.Oleh karenanya tidak ada kata lain kecuali semua pihak yang terkait pada pendidikan secara sitematis dan terus menerus meningkatkan profesional dan kompetensi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah.

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah sebagai salah satu UPT pusat sudah semestinya ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan kompetensi guru Penjasorkes di Jawa Tengah.Melalui DIPA tahun 2012 LPMP jawa  Tengah melaksanakan Diklat bagi guru penjasorkes baik guru SD,SMP.dan SMA .Sebagai rangkaian kegiatan diklat tentu melalui tahapan:a tahap persiapan,pelaksanaan,dan evalusia program diklat.Tahap persiapan meliputi antara lain a)penyusunan struktur program,silabus,SAP pretes,pemanggilan calon peserta,pemilihan waktu d tempat kegiatan dan penyiapan narasumber.

Dalam hal pelaksanaan diklat,dan evalusai program diklat diperlukan upaya agar pelaksanaan diklat dapat terlaksana denga efektif dan efisien.Bagaimana upaya yang dilakukan?salah satu cara adalah mengungkap berdasarkan fakta yang ada tentang pelaksanaan dan hasil diklat itu sendiri sejauhmana diklat itu berdampak positif terhadap peningkatan kompensi peserta diklat

B. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

Dari uaian pada latar belakang  masalah tersebut dapat dikemukakan rumusan  masalah:

  1. Bagaimana proses proses penyusunan Silabus dan RPP pada diklat peningkatan kompetensi guru pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang dilakukan oleh LPMP (Lembaga  Penjaminan Mutgu Pendidikan) pada  tahun 2012?
  2. Apakah Diklat (Pendidikan dan Latihan ) yang dilakukan oleh LPMP (Lembaga  Penjaminan Mutu Pendidikan)Jawa  Tengah tahun 2012 dapat meningkatkan kompetensi bagi guru pada mata pelajaran  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Oleh karenanya LPMPperlu :
    1. mengadakan pendidikan dan latihan bagi guru  mapel   pejasorkes  secara efektif dan efisien,dengan cara:1)menyusun silabus,struktur program sesuai kebutuhan peserta,2) menyusun bahan ajar yang tepat,3) memilih narasumber yang kompeten dibidangnya,4) menggunakan waktu yang memadai.
      1. perlu mengetahui sejauhmana diklat yang dilakukan memiliki dampak pada   peningakatan kompetensi bagi mata pelajaran penjasorkes tahun 2012,

C. Tujuan Penelitian

1.  Untuk mengetahui sejauhmana tingkat  kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP dalam kegiatan diklat yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah tahun 2012

  1. 2.  Untuk mengetahui Dampak diklat dalam peningkatan kompetensi profesional yang dilakukan oleh LPMP JawaTengah tahun  2012 terhadap peningkatan kompetensi guru

D. Manfaat penelitian

1. Lembaga penjaminan mutu pendidikan (LPMP) Jawa Tengah dapat melakukan refleksi/evaluasi tentang pelaksanaan diklat yangdilakukan dalam rangka perbaikan penyelenggaraan diklat yang akan datang

2. Peserta diklat memiliki keterampilan mengelola pembelajaran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Pendidikan Jasmani
    1. Hakikat Pendidikan Jasmani

Seiring dengan perubahan kurikulum, perubahan undang-undang serta peraturan lain serta kebijakan pemerintah dalam pendidikan kita, maka pemahaman terhadap pendidikan jasmani juga mengalami perubahan. Pemahaman tentang pendidikan jasmani sampai saat ini sangat beragam sesuai dengan latar belakang dan tingkat pengtahuan seseorang. Sebagai  gambaran dapat kita cermati pengertian maupun istilah yang pernah digunakan dari beberapa periode seperti di bawah ini:

Pada awal kemerdekaan tahun 1945 – 1948 pemerintah mempunyai perhatian khusus terhadap olahraga. Hal ini ditunjukkan dengan ketetapan pemerintah tentang pembentukan Inspeksi Olahraga. Walaupun namanya Inspeksi Olahraga tetapi tugas pokoknya mengurus pendidikan jasmani di sekolah. Pada saat itu istilah yang digunakan adalah ”Gerak Badan ”. Pada tahun 1950– 1961 istilah yang digunakan adalah Pendidikan Jasmani dan pada tahun 1962 – 1967 pendidikan jasmani di sekolah menggunakan istilah Olahraga  karena pada tahun 1962 kita memiliki Departemen Olahraga. Pada saat itu dunia olahraga benar – benar mendapat perhatian yang sangat baik dari pemerintah.

Pada tahun 1967 – tahun 1983 istilah yang digunakan adalah Pendidikan Olahraga dan Kesehatan  dan pada saat menggunakan kurikulum 1984 istilah yang digunakan adalah Pendidikan  Jasmani dan Kesehatan. Di dalam UU no.2 tahun 1989 tentang Sisdiknas salah satu mata pelajaran yang harus ada pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah adalah pendidikan jasmani dan kesehatan  sampai dengan kurikulum 1994 istilah yang digunakan tetap yaitu Pendidikan Jasmani dan Kesehatan(penjaskes).

Pada GBHN tahun 1999 kita tidak temukan istilah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang kita temukan adalah istilah ” Pendidikan Olahraga ” yaitu pada kalimat ”menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan masyarakat”.

Berdasarkan UU no.20 tentang Sisdiknas pada pasal 37 ayat 1 point h dikatakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat Pendidikan Jasmani dan Olahraga, tetapi pada Peraturan Menteri no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi pada struktur kurikulum istilah yang digunakan adalah ” Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.” Beberapa pendapat tentang pendidikan jasmani yang perlu penulis sampaikan yaitu:

  1. Organisasi UNESCO yang tertera dalam ICPE ( Internasional Charter of Physical Education (1974) mengemukakan : Pendidikan Jasmani adalah suatu proses prndidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak
  2. Ateng (1993) mengemukakan : Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual, dan emosional.
  3. Menurut MENPORA, Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang  sebagai perorangan maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani dalasm rangka memperoleh peningkatan kemampuan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak (Menpora:1984).
  4. Bucher (1983) mengatakan : Pendidikan Jasmani terdiri dari dua kata yaitu jasmani (physical) dan pendidikan (education). Kata jasmani memberi pengertian bermacam-macam kegiatan meliputi : kekuatan jasmani, pengembangan jasmani, kecakapan jasmani, kesehatan jasmani dan penampilan jasmani. Sedangkan tambahan kata pendidikan yang kemudian menjadi (physcal education ) merupakan suatu pengertian yang tidak dapat dipisahkan antara ”pendidikan dan ”jasmani”. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memberikan perhatian pada aktivitas pengembangan jasmani manusia. Walaupun pengembangan utamanya adalah jasmani, namun tetap berintensi pendidikan. Pengembangan jasmani bukan merupakan tujuan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
  5. Rijsdorp (1975) dari Belanda menggunakan istilah dari kata Gymnazium yaitu latihan, berlatih, dan pasivum berarti melatih diri, Gymnologi adalah ilmu yang menelaah aksi motorik dalam ruang lingkup pendidikan dan pembentukan. Pendidikan  jasmani bukanlah pendidikan dari pada badan, tetapi suatu pergaulan paedagogis dalam dunia gerak dan pengalaman jasmani. Gerak manusia merupakan perubahan dalam hubungan manusia dengan dunia sekitar. Dalam ruang lingkup pendidikan aksi motorik disempurnakan dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian menuju kearah kedewasaan. Kedewasaan manusia berarti secara berdikari mampu nmenunaikan tugas hidupnya.
  6. Baley dan Field (1976) memberikan pengertian pendidikan jasmani  adalah suatu proses pendidikan melalui pemilihan aktivitas fisik yang akan menghasilkan adaptasi pada organik,syaraf otot, intelektual, sosial, kultural, emosional, dan estetika.
  7. Luthan (1995:1) menyatakan bahwa” pendidikan jasmani merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, melalui aktivitas jasmani yang disusun secara sistematis untuk menuju manusia seutuhnya.”
  8. Annarino,Cowel dan Hazelton (1960:11)yang dikutip Sukintaka berpendapat bahwa” pendidikan jasmani merupakan pendidikan lewat aktivitas jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan dalam ranah fisik, psykomotorik, kognitif dan afektif.”
  9. Pada kurikulum 2004

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematis bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuro muskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional.

Dari berbagai pendapat tentang pendidikan jasmani seperti tersebut di atas walaupun menggunakan redaksi/kalimat yang berbeda namun secara garis besar memiliki penekanan yang sama yaitu pendidikan jasmani adalah bagian dari strategi pendidikan yang menggunakan aktiviatas fisik yang dirancang secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada aspek fisik saja tetap mencakup aspek jasmani,rohani serta sosial.

Hasil tersebut di atas itulah yang membedakan dengan dengan mata pelajaran lainnya. Pendidikan jasmani memiliki cakupan tujuan yang lengkap, dan hal ini pula yang menjadikan pendidikan jasmani memiliki karakteristik tersendiri.

  1. 2. Pandangan Tradisional Tentang Pendidikan Jasmani

Pandangan tradisional menganggap bahwa manusia terdiri dari dua komponen utama yang dapat  dipisah-pisahkan yaitu jasmani dan rohani (dikotomi).

Pandangan ini menganggap bahwa pendidikan jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Dengan kata lain pendidikan jasmani sebagai pelengkap saja.

Di Amerika Serikat, pandangan dikotomi ini muncul pada akhir abad ke-19 atau antara tahun 1885-1900 pada saat itu pendidikan jasmani dipengaruhi oleh  sistem Eropa, seperti sistem Jerman atau sistem Swedia, yang lebih menekankan perkembangan aspek fisik (fitness), kehalusan gerak, dan karakter siswa, dengan gimnastik sebagai medianya. Pada saat itu pendidikan jasmani lebih berperan sebagai medicine (obat) daripada sebagai pendidikan. Oleh karena itu para pengajar pendidikan jasmani lebih banyak dibekali latar belakang akademis kedokteran dasar (medicine).

Pandangan pendidikan jasmani yang berdasarkan pandangan dikotomi  manusia ini secara empirik menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan penilaian. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan jasmani ini cenderung mengarah kepada upaya  memperkuat badan, memperhebat keterampilan fisik,atau kemampuan jasmaniah saja. Selain itu sering terjadi pelaksanaan pendidikan jasmani justru mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, hingga akhirnya mendorong timbulnya pandangan modern.

  1. 3. Pandangan Modern Tentang Pendidikan Jasmani

Pandangan modern atau sering disebut dengan pandangan holistik menganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpisah-pisah.Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu. Oleh karena itu pendidikan jasmani tidak hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya kepentingan satu komponen saja (jasmani atau rohani saja).

Di Amerika Serikat pandangan holistik ini awalnya dipelopori oleh Wood dan selanjutnya oleh Hetherington pada tahun 1910.Pada saat itu pendidikan jasmani dipengaruhi oleh ”progresive education”Doktrin utama progresive education ini menyatakan bahwa semua pendidikan harus memberi konribusi terhadap perkembangan anak secara menyeluruh, dan pendidikan jasmani mempunyai peran yang sangat penting terhadap perkembangan tersebut. Pada periode ini pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui aktivitas jasmani (education through physical).

Pandangan holistik ini, pada awalnya kurang banyak memasukkan aktivitas sport karena pengaruh pandangan sebelumnya, yaitu akhir abad ke-19 yang menganggap sport tidak sesuai di sekolah-sekolah. Namun tidak dapat dipungkiri sport terus tumbuh dan berkembang menjadi aktivitas fisik yang merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Sport menjadi populer, siswa menyenanginya, dan ingin mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di sekolah-sekolah hingga para pendidik seolah-olah ditekan untuk menerima sport dalam kurikulum di sekolah-sekolah karena mengandung nilai-nilai pendidikan,hingga akhirnya pendidikan jasmani sudah berubah,yang tadinya menekankan pada gimnastik dan fitness menjadi lebih merata pada seluruh aktivitas fisik termasuk olahraga, bermain, rekreasi atau aktivitas lain dalam lingkup aktivitas fisik.

 

Di Indonesia salah satu contoh definisi pendidikan jasmani yang didasarkan atas pandangan holistik ini dikemukakan oleh Jawatan Pendidikan Jasmani (sekarang sudah dibubarkan) yang dirumuskan tahun 1960,sebagai berikut:Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang mengaktualsasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindak dan karya yang diberi bentuk, isi dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita kemanusiaan”

Definisi pendidikan jasmani dari pandangan holistik ini cukup banyak mendapat dukungan dari para ahli pendidikan jasmani lainnya. Misalnya Siedentop (1990) mengemukakan” Pendidikan Jasmani modern lebih menekankan pada pendidikan  melalui aktivitas jasmani didasarkan pada anggapan bahwa jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pandangan ini memandang kehidupan sebagai totalitas.

Wali dan Murray (1994 ) mengemukakan  serupa, dari sudut pandang yang lebih spesifik ” Masa anak-anak adalah masa yang sangat komplek, dimana pikiran, perasaan dan tindakannya selalu berubah-ubah. Oleh karena sifat anak-anak yang selalu dinamis pada saat mereka tumbuh dan berkembang, maka perubahan satu elemen seringkali mempengaruhi perubahan pada elemen lainnya. Oleh karena itulah,anak secara keseluruhan yang harus kita didik, tidak hanya mendidik jasmani atau tubuhnya saja”.

Pada Peraturan Menteri no.22 tahun 2006 tentang standar isi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dikatakan bahwa “Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral,aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional”.

Oleh karena itu pendidikan jasmani harus dimaknai untuk membekali pengalaman belajar siswa yang diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan  perkembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat,bugar sepanjang hayat.

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus dapat menjadi media yang mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Mengacu pada beberapa pendapat para ahli dapat disampaikan bahwa : Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian

integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis,keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani,olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.

  1. 4. Fungsi dan Peran Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan secara keseluruhan. Lewat program pendidikan jasmani dapat diupayakan untuk mengembangkan kepribadian individu. Tanpa Pendidikan jasmani proses pendidikan di sekolah akan     pincang. Sumbangan nyata pendidikan jasmani adalah untuk mengembankan keterampilan (psikomotorik). Karena itu posisi pendidikan jasmani  menjai unik, sebab berpeluang lebih banyak daripada mata pelajaran lainnya untuk mengembangkan keterampilan. Hal ini sekaligus mengungkapkan kelebihan pendidikan jasmani dari mata pelajaran lainnya.Jika pelajaran lainnya lebih mementingkan perkembangan intelektual,maka melalui pendidikan jasmani terbina sekaligus aspek penalaran, sikap dan keterampilan.

Secara garis besar ada tiga hal penting yang bisa disumbangkan oleh mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah yaitu :

  1. Meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan siswa.
  2. Meningkatkan terkuasainya keterampilan fisik yang kaya serta bagaimana menerapkannya dalam praktik.
  3. Meningkatkan kemampuan berfikir dan kepekaan rasa.

Adakah pelajaran yang lain matematika, biologi, bahasa dll) yang bisa menyumbang kemampuan-kemampuan seperti tersebut di atas? Suatu hal yang menjadi pertanyaan oleh orang di luar pendidikan jasmani adalah : mampukah aspek tersebut dapat dicapai melalui pendidikan jasmani ?. Bagi orang-orang yang berkecimpung di pendidikan jasmani tentu akan mengatakan bisa atau ”ya”,berapapun besar kontribusinya tentu tergantung pada kualitas pembelajarannya.

Tiga aspek tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Kebugaran dan Kesehatan

Kebugaran dan Kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan jasmani yang terencana teratur, terukur dan berkesinambungan  akan berpengaruh pada perubahan kemampuan fungsi organ-organ tubuh seperti jantung,dan paru-paru,sistem peredaran darah, pernafasan akan bertambah baik dan efisien.

Semakin meningkatnya sistem kerja tubuh akibat latihan,kemampuan tubuh akan meningkat dalam hal daya tahan, kekuatan dan kelenturannya. Demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik seperti keecepatan,kelincahan dan koordinasi.

 

Pendidikan jasmani juga dapat membentuk gaya hidup sehat.

Dengan kesadaran anak akan mampu menentukan sikap bahwa kegiatan fisik merupakan kebutuhan pokok dalam hidupnya,dan tetap akan dilakukannya sepanjang hayat.Sikap itulah yang kemudian akan membawa anak pada kualitas hidup sehat, sejahtera lahir dan batin,yang disebut istilah Wellness

  1. Keterampilan Fisik dan penerapannya dalam praktik

Keterlibatan anak dalam aktivitas fisik (permainan dan Olahraga ) merangsang perkembangan gerakan yang efisien yang berguna untuk menguasai berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut dapat berbentuk keterampilan dasar misalnya berlari dan melempar serta keterampilan khusus seperi senam atau renang,yang pada akhirnya bisa mengarah kepada keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan jasmani yang baik harus mampu menngkatkan pengetahuan anak tentang prinsip-prinsip gerak. Pengetahuan tersebut akan menjadikan anak mampu memahami bagaimana suatu keterampilan dipelajari hingga tingkat yang lebih tinggi.

Dengan demikian seluruh gerakannya bisa lebih bermakna,sebagi contoh,anak harus mengerti mengapa kaki harus dibuka dan bahu direndahkan ketika anak sedang berusaha menjaga keseimbangan. Mereka juga diharapkan mengerti mengapa harus dilakukan pemanasan sebelum berolahraga,serta apa akibat terhadap derajat kebugaran jasmani bila seorang tidak teratur dalam berlatih.

  1. Kemampuan Berfikir dan kepekaan rasa

Memang sulit diamati secara langsung bahwa kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berfikir. Namun demikian dapat dijelaskan bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. Pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan menekankan pentingnya nalar anak dalam hal membuat keputusan.

Taktik dan strategi yang melekat dalam berbagai permainan pun perlu dianalisis dengan baik untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat. Secara tidak langsung keterlibatan anak dalam kegiatan pendidikan jasmani merupakan latihan untuk menjadi pemikir dan pengambil keputusan yang mandiri. Dalam pembelajaran pendidikan jasmani banyak sekali adegan yang memerlukan diskusi terbuka yang menantang penalaran anak. Teknik gerak dan prinsip yang mendasarinya merupakan topik-topik yang menarik untuk didiskusikan. Peraturan permainan dan variasi gerakan juga dapat dijadikan rangsangan bagi anak untuk memikirkan pemecahannya.

Dalam hal olah rasa,pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh unik. Kegiatan yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun besar merupakan wahana yang tepat untuk berkomunkasi dan bergaul dalam lingkup sosial. Dalam kehidupan sosial, setiap individu akan belajar untuk bertanggung jawab melaksanakan peranannya sebagai anggota masyarakat. Dalam masyarakat banyak norma atau aturan yang harus ditaati dan aturan main yang melandasinya.Melalui pendidikan jasmani norma dan aturan yang dipelajari,dihayati dan diamalkan. Untuk dapat berperan aktif anak pun harus menguasai beberapa keterampilan yang diperlukan. Sebenarnya kegiatan pendidikan jasmani disebut sebagai ajang  nyata untuk melatih keterampilan-keterampilan hidup(life skill ) agar seseorang dapat hidup berguna dan tidak menyusahkan masyarakat.

Kecerdasan emosional atau keterampilan hidup bermasyarakat/keterampilan sosial sangat mementingkan kemampuan pengendalian diri. Dengan kemampuan ini seseorang dapat berhasil mengatasi masalah . Anak yang rendah kemampuan pengendalian dirinya biasanya ingin memecahkan masalah dengan kekerasan dan tidak merasa ragu untuk melanggar berbagai aturan. Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri,membina ketekunan dan motivasi diri melalui bentuk-bentuk permainan atau olahraga.

Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri ( self esteem ) anak berkembang.Secara umum citra diri diartikan sebagai cara kita untuk menilai diri sendiri. Citra diri merupakan dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Dengan citra dri yang baik seseorang merasa aman dan berkeinginan untuk mengeskplorasi dunia. Dia mau dan mampu mengambil resiko,berani berkomunikasi dengan orang lain, serta mampu menanggulangi stress.

Tujuan pendidikan jasmani menyangkut tiga aspek yaitu tujuan yang terkait dengan afektif, kognitif dan psikomotorik. Jika kita kaitkan dengan tujuan Pendidikan Nasional maka tujuan pendidikan jasmani mengarah pula pada tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum pada Undang-Undang no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Ternyata tujan Pendidikan jasmani sangat lengkap seperti tujuan pendidikan nasional.

Dari penjelasan tersebut lengkaplah pemahaman kita tentang  fungsi dan kontribusi pendidikan jasmani yang luar biasa terhadap pencapaian tujuan pendidikan secara menyeluruh. Dengan demikian sudah sewajarnya jika semua pihak (stake holder ) merespon secara positif setiap aktivitas pendidikan jasmani di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani bisa berbeda karena berbeda dalam rancangan kurikulumnya. Di negara maju pendidikan jasmani dilaksanakan dengan berorientasi pada model-model kurikulum yang berbeda. Model kurikulum inilah yang menentukan perbedaan tekanan teradap program yang dilasanakan,apakah berorientasi pada peningkatan kesegaran jasmani atau keterampilan gerak,dll.Beberapa model kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani :

  1. Pendidikan Gerak ( Movement Education )

Pendidikan gerak menekankan pendidikan lewat gerak yang mula-mula dikembangkan oleh Rudolf Laban di Inggris.Laban mengembangkan konsep-konsep gerak yang berkaitan dengan ruang dan waktu sebagai bahan  untuk pengembangan  gerak-gerak tari. Aliran ini akhirnya dibawa ke Amerika Srikat dan diadopsi sebagai program pendidikan jasmani.

Lewat pendidikan gerak,keterampilan gerak siswa dikembangkan melalui pelaksanaan yang bervariasi,dikatakan dengan ruang,waktu,arah serta tingkat ketinggian dimana gerakan itu dilakukan. Tidak ada istilah benar salah,siswa akan lebih menguasai pergerakan tubuhnya disertai penegrtiannya. Diharapkan siswa menguasai tubuhnya dan mampu mengembangkan kapasitas fisik dan mentalnya untuk belajar,baik keterampilan fisik maupun keterampilan akademisnya.

  1. Pendidikan Olahraga (Sport Education )

Ada kesalahapahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga.Keduanya berbeda,pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak, sedangkan pendidikan olah raga menekankan pada keterampilan berolahraga dan menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding. Semua siswa dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan olahraga,seperti wasit,atlet atau pelatih. Dalam arti itulah pendidikan olahraga di AS.

  1. Pendidikan Perkembangan ( Developmental Education )

Model pendidikan perkembangan menfokuskan tujuan pendidikannya pada aktualisasi diri yang menekankan pertumbuhan pribadi dari setiap anak. Kurikulum dikembangkan berdasarkan tingkat perekembangan siswa,yang berusaha menyeimbangkan penekanan pada ranah kognitif,afektif dan psikomotor.

Pendidikan jasmani yang berorientasi pada developmental education mengarahkan kegiatan siswa melalui  pemenuhan kebutuhan keterampilan pada diri siswa,disesuaikan dengan tahap perkembangan fisik dan mentalnya,setiap kelompok diarahkan pada keterampilan gerak yang dibutuhkan siswa,misalnya bagi siswa usia dibawah lima tahun perlu dikembangkan kemampuan pengaturan tubuhnya dan bagi siswa di atasnya perlu dikembangkan keterampilan dasarnya.Sementara bagi siswa yang lebih dewasa diarahkan pada keterampilan khusus seperti yang dikembangkan dalam cabang olahraga tertentu.

  1. Pendidikan Petualangan

Pendidikan petualangan dikembangkan atas dasar kebutuhan untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup semakin berat.Programnya berisi kegiatan yang menantang di alam bebas dan disesuaikan dengan kebutuhan para remaja untuk bertualang mengatasi resiko dan perjuangan melawan tantangan alam. Mendaki gunung, menyusuri sungai, berkemah, memanjat tebing dan variasi lainnya di alam terbuka merupakan contoh program pendidikan petualangan.

  1. Pendidikan Kebugaran (Fitness Education )

Sekolah memang dapat menekankan orientasinya pada pengembangan kebugaran siswanya.Program ini mengarahkan siswanya supaya aktif berlatih di sekolah dan di luar sekolah untuk hidup sehat dan memiliki kemampuan fisik yang baik.Pelaksanaan SKJ merupakan contoh program pendidikan kebugaran.

  1. Pendidikan Disiplin Keilmuan Olahraga (Kinesiological Studies )

Model ini pada hakikatnya sama dengan model pendidikan gerak dalam orientasi nilainya, tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin gerak manusia (misalnya fisiologi latihan,Biomekanika,dan kinesiologi). Karena itu model inipun disebut juga pendidikan disiplin keilmuan olahraga.

Penekanan pembelajaran model ini adalah pada pengembangan keterampilan memecahkan masalah,khususnya dengan menggunakan kombinasi antara pembelajaran konsep dan praktiknya di lapangan.Tujuan utama adalah menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman kognitif tentang bagaimana dan mengapa suatu keterampilan gerak berlangsung demikian.Model ini didasari dua pendekatan yang khas dalam studi kinesiologi,yaitu:isi atau materi diatur dalam sebuah unit-unit kegiatan,dan konsep-konsep disiplin utama diintegrasikan dengan pengajaran keterampilan dan yang kedua; unit-unit kegiatan diatur disekitar konsep-konsep khusus yang menjadi prioritas di atas  pengajaran keterampilan.

Pemakaian model ini umumnya dipilih oleh guru pendidikan jasmani di tingkat sekolah menengah,meskipun banyak sekolah menengah telah memasukkan satu atau dua unit konsep dalam kurikulumnya,khusus dipadukan dengan sehat-bugar-jasmani,sedikit sekali sekolah yang hanya memakai model kinesiologi secara tunggal.Jika kita telah sepakat untuk memilih model kurikulum yang akan digunakan maka konsekwensinya tentu akan menerapkan dalam praktik/pengelolaan  pembelajaran.

  1. Peningkatkan Kualitas dan Kuantitas Guru Pendidikan Jasmani

Seperti yang teruang dalam Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang  Standar Nasional Penididikan (SNP)pasal 29 ayat 2 dikatakan point (2) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:a.kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)b.latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c.sertifikat profesi guru untuk SD/MI .Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru pada pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa” Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional.Dijelaskan pula bahwa Guru pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI)atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Secara bertahap kualifikasi akademik dan kompetensi tenaga pendidikan kita akan mengacu kepada peraturan pemerintah maupun peraturan menteri tersebut di atas. Bagaimana kondisi dilapangan saat ini?sebagai gambaran dapat penulis sampaikan data tentang  guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di Jawa Tengah sampai dengan akhir tahun 2006.

Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.

Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.

Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill.

Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional. Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosionalsportivitas- spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

  1. 5. Tujuan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar    peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidupsehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang  terpilih
  2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih  baik.
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
    1. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi   nilai nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
    2. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab,kerjasama,   percaya diri dan demokratis
    3. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri     sendiri,orang lain dan lingkungan
    4. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
      1. 6. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Olaraga dan Kesehatan

Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan  meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

  1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan.eksplorasi  gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket,   bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya
  2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
  3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan   tanpa alat,ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas  lainnya Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam    aerobic serta  aktivitas lainnya
  4. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan  bergerak  di air, dan renang serta aktivitas lainnya
  5. Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan Lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
  6. Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam   kehidupan sehari- hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap  sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek

B. Tugas Pokok dan Fungsi Lembaga Penjaminan mutu Pendidikan (LPMP)

1. Diklat fungsional guru

Pendidikan dan pelatihan fungsional adalah upaya peningkatan kompetensi guru dan/atau pemantapan wawasan, pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang sesuai dengan profesi guru yang bermanfaat dalam pelaksanaan tugas guru melalui lembaga yang memiliki izin penyelenggaraan dari instansi yang berwenang

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Dalam proses pembelajaran, guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting, selain kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Guru merupakan sumber daya manusia yang menjadi perencana, pelaku dan penentu tercapainya tujuan pembelajaran. Guru adalah orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan berhadapan dan berinteraksi langsung dengan para peserta didiknya dalam suatu proses yang sistematis, terencana, dan bertujuan. Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan di bidang pendidikan. Untuk itu, Pemerintah melalui UU No. 14 tahun 2005 mensyaratkan guru harus mempunyai empat kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Sesuai dengan Peraturan Mendiknas No. 66 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, tugas LPMP adalah melaksanakan penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah di tingkat provinsi. Salah satu fungsinya adalah melakukan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di tingkat provinsi. Untuk mendukung peningkatan kompetensi guru di tingkat dasar dan menengah di Kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Tengah, maka tahun 2012 LPMP Provinsi Jawa Tengah perlu memfasilitasi guru SD,SMP dan SMA melalui kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajar Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

  1. Silabus Diklat

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran” (Salim, 1987: 98).

Dalam penyelenggaraan diklat di LPMP Jateng diharuskan membuat silabus diklat sebelum kegiatan diklat dilaksanakan,hal ini penting karena silabus akan menjadi acuan tentang materi apa yang akan disajikan,bentuk/aktivitas dan jenis kegiatan apa yang harus dilakukan oleh narasumber/penyaji dan peserta diklat.

Adapun mekanisme penyusunan silabus yang dilakukan oleh LPMP jawa Tengah sebagai berikut:

Gambar 01

Keterangan:

  1. Mempelajari temuan implementasi KTSP

Dari hasil temuan implementasi KTSP yang telah dilakukan olehLPMP Jawa  Tengah dapat menjadi masukan penting dalam merancang silabus diklat.Fakta  menunjukkan bahwa guru-guru (Guru penjasorkes dan mapel lainnya) ternyata masih perlu ditingkatkan kompetensinya, apakah di kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadiannya.

  1. Mengundang calon penyaji untuk menyusun silabus

Mengingat narasumber di LPMP sangat terbatas maka perlu menjalin kerjasama dengan institusi atau lembaga lain yang memiliki narasumber yang memiliki kompetensi memadai,seperti Unnes,dan UNS.

  1. Diskusi penyusunan Silabus

Agar memperoleh siabus yang cocok atau sesuai maka dilakukan diskusi tanya jawab dan penayangan bentuk dan isi silabus sekaligus memilih alternatif silabus yang dipilih.

  1. Finalisasi silabus

Dari beberapa silabus yang ditayangkan kemudian dipilih silabus yang paling cocok untuk digunakan.

  1. Struktur program

Setelah silabus tersusun selanjutnya membuat struktur program kebiatan diklat.bentuk dan isi struktur program sebagai berikut:

Kegiatan dilakukan selama 5 (lima) hari dengan pola 45 Jam Pelajaran yang terdiri dari program umum,program pokok dan prgram penunjang yaitu:

1.  Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2.  Analisis Standar Isi Mapel Penjasorkes

3.  Penyusunan Silabus

4.  Model Pembelajaran

5.  Pengembangan RPP

6.  Pengembangan Instrumen Penilaian

7.  Pengembangan Media Pembelajaran

8.  Simulasi Mengajar

9.  Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

10.Rencana Tindak Lanjut (RTL)

STRUKTUR PROGRAM DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI

GURU MAPEL PENJASORKES TAHUN 2012

C.    Silabus Mata Pelajaran pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber.

SP

pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus

I.  Prinsip Pengembangan Silabus

  1. 1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

  1. 2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.  Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran,  strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran

  1. 3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media,  serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

  1. 4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini,  pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

  1. 5. Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.  Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis

  1. 6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena  dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran.  Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

  1. 7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

8.       Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

2. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

  1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

  1. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan  materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  2. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata

pelajaran;

  1. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata

pelajaran.

  1. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

  1. potensi peserta didik;
  2. relevansi dengan karakteristik daerah,
    1. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
  3. kebermanfaatan bagi peserta didik;
  4. struktur keilmuan;
  5. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  6. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  7. alokasi waktu.

3.  Melakukan Pemetaan Kompetensi

  1. mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran
  2. Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran
  3. c. Menyusun SK, KD sesuai dengan keterkaita

4.  Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan,  dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.  Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

a.   Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

  1. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  2. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  3. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

5.   Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).

Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

  1. 6. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

  1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
    1. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
    2. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
    3. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
    4. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

7.  Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.  Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8.  Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

1. Pengertian

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.

Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke­giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun  RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

  1. 2. Komponen RPP

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Komponen RPP adalah:

  1. Identitas mata pelajaran, meliputi:

a.             satuan pendidikan,

b.             kelas,

c. semester,

d.             program studi,

e.             mata pela­jaran atau tema pelajaran,

f. jumlah pertemuan.

  1. standar kompetensi

merupakan kualifikasi kemam­puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

  1. kompetensi dasar,

adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter­tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe­tensi dalam suatu pelajaran.

  1. indikator pencapaian kompetensi,

adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai­an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera­sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

  1. tujuan pembelajaran,

menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

  1. materi ajar,

Memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro­sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe­tensi.

  1. alokasi waktu,

Ditentukan sesuai dengan keperluan un­tuk pencapaian KD dan beban belajar.

  1. metode pembelajaran,

Digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela­jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi­lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ­asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

  1. kegiatan pembelajaran :
    1. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

  1. Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

  1. Penutup

Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un­tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpul­an, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindaklanjut.

  1. Penilaian hasil belajar

Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom­petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

  1. Sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom­petensi.

  1. 3. Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
  2. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

  1. Mendorong partisipasi aktif peserta didik

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, krea­tivitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.

  1. Mengembangkan budaya membaca dan menulis

Proses pembelajaran   dirancang untuk mengembang­kan kegemaran membaca, pemahaman beragam ba­caan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

  1. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut

RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

  1. Keterkaitan dan keterpaduan

RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, ke­giatan pembelajaran, indikator pencapaian kompeten­si, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengako­modasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

  1. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegra­si, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

  1. 4. Langkah-Langkah Penyusunan RPP

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari  mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian.  Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.

Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut.

1.  Mencantumkan Identitas

Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.

Hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
    1. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan)
    2. Indikator merupakan:
  • ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa   peserta didik telah mencapai kompetensi dasar
  • penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan  potensi daerah.
  • rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
  • digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
  1. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 45 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam  satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada  kompetensi dasarnya.

 

2.    Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran.

Misalnya:

Kegiatan pembelajaran:  ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”.

Tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat:

  1. mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.
  2. menyebutkan bagian-bagian jantung.
    1. merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya.
    2. mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.

Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.

3.   Menetukan Materi Pembelajaran

Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran,  dapat diacu dari indikator.

Contoh:

Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.

Materi pembelajaran:

Ciri-Ciri Kehidupan:Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.

4.  Menentukan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:

  1. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses,   kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
  2. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi,  tanya jawab, e-learning dan sebagainya.

5.  Menetapkan Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan  pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. 1. Kegiatan Pendahuluan
  • § Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi dan sebagainya.
  • Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
  • Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dsb.
  • Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.
  • Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelak­sana­an pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).
  1. 2. Kegiatan Inti

Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.

Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan.

  1. 3. Kegiatan penutup
  • Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan.
    • Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan atau meminta peserta didik untuk mengulang kembali simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.
    • Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi­/pengayaan.

Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6.  Memilih Sumber Belajar

Pemilihan  sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan.  Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya,  sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.

Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

7. Menentukan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Setting Penelitian
    1. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.Menurut Maman (2002; 3) penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah (Husein Umar, 1999:81). Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan pada bagaimana proses diklat  yang terlaksana secara efektif agar mampu meningkatkan kompetensinya bagi peserta diiklat.Pada akhir kegiatan penelitian akan dideskrepsikan tentang sejauhmana diklat ini dapat  meningkatkan kemampuan guru untuk menyusun silabus dan RPP
    2. Waktu, penelitian ini direncanakan dilakukan pada bulan Mei s/d bulan September  2012.Waktu 5 bulan tersebut digunakan untuk kegiatan perencanaan,pelaksanaan,

Pelaporan dan seminar.Adapun jadwal kegiatan akan dilaksanakan sebagai berikut:Tabel I. tentang jadwal kegiatan penelitian.

Gambar 03. Jadwal

  1. Tempat penelitian

Penelitian dilakukan di tempat kegiatan diklat yaitu di LPMP Jawa Tengah,jl.kyai Mojo Srondol Kulon Semarang..Kegiatan penelitian di LPMP Jawa Tengah bertujuan untuk mencermati keterlaksanaan proses kegiatan diklat,dan peningkatan guru dalam menyusun Silabus dan RPP

Subjek penelitian

Subjek penelitian adalah guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SD SMP dan SMA yang dilakukan secara acak yang mengikuti pendidikan dan latihan di LPMP Jawa Tengah tahun 2012

  1. A. Sumber data dan teknik pengumpulan data

Data diambil langsung dari subjek penelitian,yaitu dari peserta diklat guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SD,SMP dan SMK tahun 2012 yang dilakukan secara random. Data Kemampuan kognitif berdasarkan hasil pretes dan postes,dan kemampuan menyusun silabus dan RPP beradasrkan dokumen hasil penyusunan silabus dan RPP

  1. B. Analisis data

a.   Data kuantitatif menggunakan analisis  deskriptif komparatif yaitu   membandingkan kompetensi awal, sebelum pelaksanaan diklat dibandingkan dengan kompetensi setelah kegiatan diklat

b. Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan  analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi

D. Penyajian data

Setelah hasil penelitian diperoleh maka disajikan dalam  dalam bentuk  tabel,dan juga dideskrepsikan atau  diuraiankan  meliputi perencanaan,pelaksanaan,pengumpulan dan analisis data,penulisan laopran hasil penelitian,dan seminar hasil penelitian,sebagaimana bagan di bawah ini:

Gambar 04 Penyajian Data

Gambar 1 tentang penyajian data

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari beberapa kelas SD,SMP,dan SMA yang mengikuti kegiatan diklat diambil secara acak satu kelas untuk digunakan sebagai subjek penelitian hasilnya sebagai berikut :

  1. A. Hasil penyusunan silabus  untuk masing- masing satuan pendidikan

INSTRUMEN TELAAH SILABUS

Gambar 05 Instr Telaah Silabus

INSTRUMEN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Gambar 06. Instr Telaah RPP

  1. A. Hasil Pre Tes dan Pos Tes Peserta Diklat SD,SMP,dan SMA

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA MAPEL PENJASORKES

DI LPMP JAWA TENGAH TANGGAL 18 S.D 22 SEPTEMBER 2012

Gambar 07. Tabel Pre Test SMA

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMP MAPELPENJAS ORKES

TANGGAL 29 MEI S.D. 2 JUNI 2012

DI LPMP JAWA TENGAH

 

Gambar 08. Tabel Post Test SMP

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SD MAPEL PENJASORKES

TGL 28 JUNI S.D 2 JULI 2011

Gambar 09. Tabel Pre Test SD

  1. A. Analisis hasil penyusunan silabus dan RPP
    1. Dari hasil penyusunan silabus dari setiap peserta diklat dari Guru SD,SMP dan SMA secara kualitatif menunjukkan kualitas yang lebih baik(meningkat) jika dibanding dengan silabus yang dibuat oleh peserta diklat sebelum mengikuti diklat.Hasil penyusunan silabus yang dibuat oleh peserta diklat dari guru SD,SMP dan SMA,cenderung memiliki venomena yang relatif sama.Agar lebih jelas peneliti sampaikan seperti di bawah ini.

Menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah benar semua karena memang pada dasarnya hanya mengambil secara utuh dari lampiran Standar ISI

  1. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran sudah memenuhi kriteria dan memenuhi langkah-langkahnya
  2. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran belum meliputi 3 aspek yang mengarah pada

pada penguasaan kompetsi afektif,kognitif dan psikomotor

1)  Kegiatan pembelajaran belum menunjukkan secara jelas aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa

2) Kegiatan pembelajaran belum disusun berdasarkan minimal dua unsur yaitu kegiatan dan objek belajar.

3) Belum mencatumkan secara jelas aktivitas pembelajaran sesuai metode  pembelajaran yang digunakan

  1. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

1) Penulisan Indikator belum mencakup 3 aspek yaitu:afektif kognitif dan  psikomotor

2) Penulisan pada indikator belum secara benar menggunakan kata kerja operasional

  1. Penilaian

1) Bentuk penilaian belum mencakup 3 aspek

2) Penilaian karakter belum dicantumkan

3) Penilaian hanya mencantumkan aspek motorik

4) Contoh belum ditulis secara lengkap

  1. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu sudah terinci sesuai KD

  1. Menentukan Sumber Belajar

1)  Sumber belajar  terfokus pada buku

2)  Ditulis dengan kata/kalimat yang cukup lengkap

3)  Selain menuliskan sumber,juga menuliskan alat sarana dan prasaraana pembelajaran

  1. Analisis hasil penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP)

Dari hasil penyusunan RPP dari setiap peserta diklat dari Guru SD,SMP dan SMA secara kualitatif menunjukkan kualitas yang lebih baik(meningkat) jika dibanding dengan RPP yang dibuat oleh peserta diklat sebelum mengikuti diklat.Hasil penyusunan RPP yang dibuat oleh peserta diklat dari guru SD,SMP dan SMA,cenderung memiliki gejala yang relatif sama.

Agar lebih jelas peneliti sampaikan seperti di bawah ini.

  1. SK dan KD

1.  Penyusunan SK dan KD sudah saling terkait terkait

2. Penyusunan SK dan KD sudah lengkap sesuai yang tercantum pada

standar isi

  1. Indikator pencapaian kompetensi
    1. Indikator belum mengacu pada indikator yang muncul di silabus
    2. Indikator sudah dikembangkan se-kurang-kurangnya 3 indikator
    3. Indikator sudah meliputi 3 ranah (kognitif.afektif dan psikomotor
      1. Tujuan Pembelajaran
        1. Tujuan pembelajaran belum menunjukkan proses(baru hasil)
        2. Belum terinci sesuai indikator
        3. Materi ajar

Materi pelajaran belum diuraikan berdasarkan ndikator yang dikembangkan

  1. Alokasi waktu

Masing-masing         tahap kegiatan pembelajaran belum  tercantum

  1. Metode Pembelajaran
    1. Metode yang digunakan masih ada yang tidak sesuai dengan tujuan

pembelajaran

  1. Metode yang digunakan masih ada yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
  2. Mencantumkan strategi dan pendekatan
  3. Kegiatan Pembelajaan
    1. Sudah mencantumkan langkah- langkah pembelajaran
    2. Langkah pembelajaran terdiri dari a)pendahuluan b)kegiatan inti dan kegiatan penutup

Pendahuluan

Pendahuluan mencakup

a)orientasi,b)apersepsi,c)motivasi,d) menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti

Sudah mencantumkan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri:

a)eksplorasi,b)elaborasi,c) konfirmasi

Rencana pemberian tugas

Sudah mencantumkan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan metode yang digunakan

Pada penutup

  1. Sudah mencantumkan Rencana simpulan
  2. Rencana penguatan
  3. Rencana penilaian
  4. Penilaian hasil belajar
    1. Jenis penilaian sudah mencakup 3 aspek yaitu aspek afektif,kognitif dan psikomotor
    2. Prosedur penilaian sesuai dengan inidikator yang dikembangkan
    3. Sumber Belajar

Sumber belajar ditulis  cukup lengkap

  1. Analisisi hasil pre tes dan pos tes

Pre tes dapat digunakan sebagai prediksi/sebagai gambaran tentang kompetesi awal yang dimiliki oleh peserta sebelum mengikuti diklat,sedangkan pos tes sebagai gambaran tingkat kompetensi yang dimiliki oleh peserta setelah mengikuti diklat

Adapun hasil pre tes dan pos tes dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 10 Pre Post

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa sudah ada peningakatan kompetensi profesional (kognitif) sudah ada peningkatan walaupun masih relatif kecil.

  1. Pembahasan Hasil

Berdasarkan  hasil penyusunan silabus dan RPP  peserta diklat secara kualitatif meningkat lebih baik,dan secara kualitatif hasil pre tes dan pos tes peserta diklat juga semakin menngkat.Hal ini menunjukkan bahwa kompetentesi peserta diklat semakin baik jika dibandikan antara sebelum diklat dan setelah diklat.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan
  1. Dari pembahasan dan hasil analisis data seperti tersebut di atas ternyata diklat peningkatan kompetensi guru penjasorkes tahun 2013 yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah mampu meningkatkan kompetensi peserta diklat dalam menyusun perangkat pembelajaran yaitu kemampuan menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

Aspek yang meningkat kompetensi terdiri dari

a.Cara menyusun kegiatan pembelajaran

b.Cara menyusun indikator

c.Memilih materi pelajaran

d.Memilih instrumen penilaian

e.Memilih metode pembelajaran

f. Memilih media pembelajaran

2.Dilihat dari hasil pre tes dan pos tes pesert diklat,ternyata tingkat pemahaman peserta diklat semakin meningkat

Secara umum kesalahan yang dilakukan antara peserta diklat SD,SMP,dan SMA memiliki kesalahan yang sama dan atau hampir sama antara lain adalah:

  1. Dalam hal mengembangkan indikator
  2. Merumuskan tujuan pembelajaran
  3. Merencanakan kegiatan Ekplorasi,Elaborasi dan Konfirmasi dalam kegiatan pembelajaran
  4. Merumuskan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur

Ternyata kompetensi profesionalnya pun mengalami peningkatan,hal ini terbukti dengan meningkatnya hasil pos tes dibanding dengan hasil pre tes  untuk peserta diklat SD,SMP maupun SMA,walaupun masih relatif kecil

  1. Saran

Agar kegiatan diklat lebih dapat meningkatkan peserta diklat dalam hal menyusun silabus,RPP dan kompetensi profesionalnya maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut:

  1. Proses diklat lebih banyak lagi melibatkan keaktifan peserta
  2. Peserta diklat perlu disarankan untuk memahami tentang peraturan menteri Pendidikan Nasional yang terkait dengan standar isi,standar penilaian,standar preoses,standar kompetensi lulusan.

DAFTAR PUSTAKA

Ateng,Abdulkadir.1993.Pendidikan jasmani di Indonesia.Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Keolahragaan.Jakarta:Guna Krida Prakarsa.

Depdiknas,1992.Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani.Jakarta:Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Pendidikan Tinggi.

Depdiknas,2003.Undang-Undang no.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta:Depdiknas.

­­­­­­­­Depdiknas.2006.Peraturan Menteri no.22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.Jakarta:Badan Standar Nasonal Pendidikan.

Depdiknas.2007.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.16 tahun 2007.Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi  Guru.Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2007.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.41 Tahun 2007.Standar Proses .Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2007.PeraturanMenteri Pendidikan Nasional no.19 tahun 2007 tentang  Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2003.Standar Kuriklum Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMA/MA

Jakarta:Pusat Kurikulum,Balitbang Depdiknas.

Hamid,Abdul,Dkk.1995.Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.Jakarta:yudhistira

Kartaamihardja,Supandi..2002.Perkembangan Pendidikan Jasmani Masalah dan

Tantangan.Makalah disajikan  pada Seminar dan Lokakarya  Nasional di

Semarang tanggal 4-6 Agustus 2002.

Luthan,Rusli.1998.Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga:Arah Pembangunan pada Abad ke 21.Makalah disajikan pada Konferensi Nasional Pendidikan dan Olahraga di Bandung tanggal 22 September 1997.

Syarifudin.1997.Pokok-Pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Latest Comments