Friday, September 10, 2010
   
Text Size

Search

Total Dibaca: 164

Kejujuran Akademik

User Rating: / 1
PoorBest 
KEJUJURAN merupakan kosakata yang gampang diucapkan, tetapi sulit diwujudkan. Begitulah ungkapan yang pas untuk menanggapi ulah seorang guru besar (profesor) di Bandung yang ketahuan berbuat memalukan: menjiplak.

Akibatnya, sang guru besar harus dikenai sanksi akademik dan sanski sosial. Ia harus menanggalkan gelar guru besar dan menanggung aib sepanjang hidup.

Menurut pendapat Ajip Rosidi, penjiplakan adalah pengumuman bahwa sebuah karya pengetahuan atau seni oleh ilmuwan atau seniman kepada publik atas semua atau sebagian karya orang lain, tanpa menyebutkan nama pengarang yang dicatut. Tindakan itu ditempuh agar publik tahu bahwa karya yang dicatut seolah-olah karya sang penjiplak.

Apa yang dilakukan guru besar tersebut sebetulnya fenomena puncak gunung es. Kasus tersebut hanya melengkapi sederet tindakan penjiplakan yang masih diterapkan sebagian akademisi kita.

Sebetulnya masih banyak akademisi yang nekat berbuat sedemikian itu. Mulai dari pembuatan makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel-artikel ilmiah. Namun perbuatan itu belum terkuak oleh media dan tertutup rapat di balik tembok tebal kebohongan.

Terbukti, di pelbagai tempat merebak jasa konsultasi penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Pelanggan pun cukup banyak. Meski memakai kata "konsultasi", dalam praktik tidak demikian. Jasa konsultasi itu juga melayani pemesanan skripsi dan semacamnya.

Untuk satu karya bisa dihargai jutaan rupiah. Barangkali tak terlalu jadi persoalan jika sang penyedia jasa membuat pesanan sebuah karya. Namun akan sangat-sangat memalukan jika sang penyedia jasa hanya melakukan copy/cut paste karya orang lain.

Menutup Mata

Jika seseorang nekat memakai jasa tersebut berarti telah menggadaikan harga diri untuk sebuah tujuan jangka pendek. Praktik semacam itu memang belum banyak terkuak. Dan, sejauh ini aparat berwajib seolah menutup mata. Padahal, tindakan tersebut bisa dikategorikan kejahatan dan sang pelaku bisa dikenai sanksi berat.

Drama kebohongan ternyata tak hanya nyaring di dunia politik, tetapi juga di alam akademik. Hal itu tentu patut disayangkan. Betapa kejujuran ibarat barang mewah nan mahal. Praktis, tak semua orang, termasuk kaum intelektual, sanggup menjalankan. Gejala apakah itu?

Yang jelas bukan kabar baik, melainkan indikasi betapa kemerosotan moral bangsa kita makin nyata. Lengkap sudah kebohongan yang melanda bangsa ini. Mulai dari kemerebakan mafia hukum yang mampu membelokkan hukum sedemikian mudah, tipu muslihat kebijakan pemerintah, hingga penjiplakan di kalangan akademik.

Lantas, sudah hilangkah benih-benih kejujuran bangsa ini? Tentu pertanyaan itu tak mudah dijawab. Karena, memang tindakan jujur sudah dikalahkan oleh kecurangan.

Dalam perspektif ini, kasus penjiplakan harus menjadi perhatian semua pihak. Tindakan itu adalah potret pragmatisme yang ingin mencapai tujuan dengan cara instan dan dalam tempo singkat.

Sungguh miris jika budaya prgmatis juga hidup di dunia akademik. Padahal, dunia akademik idealnya tempat persemaian bibit kejujuran yang diharapkan mampu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (53)

- Musta'inah SSi, guru PAUD Griya Nanda, Sapen, Yogyakarta
 
sumber : SuaraMerdeka 
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Latest Comments