Total Dibaca: 658
UT Makin Berkualitas?
BEBERAPA tahun belakangan ini, Universitas Terbuka (UT) naik pamor. Orang tak malu lagi kuliah di UT.
Sampai semester II 2009, mahasiswa aktif di UT 630.000 orang (www.kompas.com, 29 Desember 2009).
Mayoritas mahasiswa UT sudah bekerja, terutama guru. Karena kesibukan tugas, tak mungkin bagi mereka kuliah di perguruan tinggi reguler.
Guru sebagai mayoritas mahasiswa UT tentu berkait dengan program pemerintah tentang sertifikasi guru. Salah satu syarat agar guru dapat mengikuti program sertifikasi adalah berijazah S1. Dan, UT menjadi pilihan para guru untuk meraih gelar sarjana dengan biaya murah.
Kuliah di UT sekarang berbeda dari dulu. Dulu, kuliah di UT menggunakan sistem moduler penuh. Mahasiswa hanya membaca modul, tanpa pernah bertemu dosen (tutor). Sekarang, mahasiswa dapat bertatap muka dengan dosen secara berkala (sistem tutorial).
Tatap muka dosen-mahasiswa dimungkinkan karena UT telah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah atau perguruan tinggi untuk menyelenggarakan perkuliahan di ruang kelas.
Untuk menyelenggarakan tatap muka di daerah dibentuk kelompok belajar. Perkuliahan untuk kelompok belajar Limpung-Batang, misalnya, diadakan di Madrasah Aliyah NU Limpung. Setiap semester ada delapan kali tatap muka dosen-mahasiswa. Biasanya Sabtu dan Minggu.
Dengan tatap muka seperti itu, meski dengan durasi terbatas, mahasiswa UT dapat merasakan layaknya kuliah di perguruan tinggi reguler. Interaksi antara dosen dan mahasiswa pun dapat terjalin, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran.
Interaksi itu antara lain berupa pemberian tugas dari dosen pada mahasiswa, seperti pembuatan makalah, resume, atau penelitian sederhana. Selain itu ada pembelajaran berupa diskusi sebagai bagian eksplorasi potensi mahasiswa, terutama untuk menggali kemampuan mahasiswa mengemukakan pikiran secara sistematis.
Selain melalui tatap muka, mahasiswa UT juga dapat mengikuti proses belajar melalui internet. Situs resmi UT telah menyediakan fasilitas belajar online. Selain itu mahasiswa dapat memanfaatkan email atau belajar melalui blog milik dosen (bila ada). Dan, tentu, belajar melalui modul.
Kualitas modul keluaran UT telah diakui, antara lain oleh Dr Agus Maulana MSM, pakar kebijakan bisnis dari IPB. Untuk lebih menjamin kualitas bahan ajar, mulai tahun 2008 lebih dari 100 bahan ajar UT telah ditakar para pakar dari berbagai perguruan tinggi terkemuka.
Hasil penakaran menunjukkan, tahun 2008†rata-rata bahan ajar, baik dilihat dari kualitas setiap modul maupun keseluruhan, berada pada†kategori bagus.
Di samping itu, lebih dari 80% pakar yang menakar menyatakan akan menggunakan bahan ajar UT sebagai salah satu referensi mengajar (Yulia Budiwati, www.ut.ac.id, 5 November 2009).
Fakta tersebut menunjukkan, pemerintah punya komitmen untuk menyediakan pendidikan tinggi yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat. Karena itu masyarakat tak perlu lagi memandang sebelah mata mahasiswa dan lulusan UT.
Di sisi lain, itu merupakan tantangan bagi mahasiswa UT untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, kualitas diri menjadi lebih baik. Kualitas UT bukan hanya ditentukan oleh regulasi, kurikulum, dosen, melainkan juga oleh semangat juang mahasiswa untuk menambah ilmu. (53)
- Sri Widiyaningsih, mahasiswi UT, guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal Krangkoan, Limpung, Batang
Sampai semester II 2009, mahasiswa aktif di UT 630.000 orang (www.kompas.com, 29 Desember 2009).
Mayoritas mahasiswa UT sudah bekerja, terutama guru. Karena kesibukan tugas, tak mungkin bagi mereka kuliah di perguruan tinggi reguler.
Guru sebagai mayoritas mahasiswa UT tentu berkait dengan program pemerintah tentang sertifikasi guru. Salah satu syarat agar guru dapat mengikuti program sertifikasi adalah berijazah S1. Dan, UT menjadi pilihan para guru untuk meraih gelar sarjana dengan biaya murah.
Kuliah di UT sekarang berbeda dari dulu. Dulu, kuliah di UT menggunakan sistem moduler penuh. Mahasiswa hanya membaca modul, tanpa pernah bertemu dosen (tutor). Sekarang, mahasiswa dapat bertatap muka dengan dosen secara berkala (sistem tutorial).
Tatap muka dosen-mahasiswa dimungkinkan karena UT telah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah atau perguruan tinggi untuk menyelenggarakan perkuliahan di ruang kelas.
Untuk menyelenggarakan tatap muka di daerah dibentuk kelompok belajar. Perkuliahan untuk kelompok belajar Limpung-Batang, misalnya, diadakan di Madrasah Aliyah NU Limpung. Setiap semester ada delapan kali tatap muka dosen-mahasiswa. Biasanya Sabtu dan Minggu.
Dengan tatap muka seperti itu, meski dengan durasi terbatas, mahasiswa UT dapat merasakan layaknya kuliah di perguruan tinggi reguler. Interaksi antara dosen dan mahasiswa pun dapat terjalin, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran.
Interaksi itu antara lain berupa pemberian tugas dari dosen pada mahasiswa, seperti pembuatan makalah, resume, atau penelitian sederhana. Selain itu ada pembelajaran berupa diskusi sebagai bagian eksplorasi potensi mahasiswa, terutama untuk menggali kemampuan mahasiswa mengemukakan pikiran secara sistematis.
Selain melalui tatap muka, mahasiswa UT juga dapat mengikuti proses belajar melalui internet. Situs resmi UT telah menyediakan fasilitas belajar online. Selain itu mahasiswa dapat memanfaatkan email atau belajar melalui blog milik dosen (bila ada). Dan, tentu, belajar melalui modul.
Kualitas modul keluaran UT telah diakui, antara lain oleh Dr Agus Maulana MSM, pakar kebijakan bisnis dari IPB. Untuk lebih menjamin kualitas bahan ajar, mulai tahun 2008 lebih dari 100 bahan ajar UT telah ditakar para pakar dari berbagai perguruan tinggi terkemuka.
Hasil penakaran menunjukkan, tahun 2008†rata-rata bahan ajar, baik dilihat dari kualitas setiap modul maupun keseluruhan, berada pada†kategori bagus.
Di samping itu, lebih dari 80% pakar yang menakar menyatakan akan menggunakan bahan ajar UT sebagai salah satu referensi mengajar (Yulia Budiwati, www.ut.ac.id, 5 November 2009).
Fakta tersebut menunjukkan, pemerintah punya komitmen untuk menyediakan pendidikan tinggi yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat. Karena itu masyarakat tak perlu lagi memandang sebelah mata mahasiswa dan lulusan UT.
Di sisi lain, itu merupakan tantangan bagi mahasiswa UT untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, kualitas diri menjadi lebih baik. Kualitas UT bukan hanya ditentukan oleh regulasi, kurikulum, dosen, melainkan juga oleh semangat juang mahasiswa untuk menambah ilmu. (53)
- Sri Widiyaningsih, mahasiswi UT, guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal Krangkoan, Limpung, Batang
sumber : SuaraMerdeka
| Comments |
|
|
||||||
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
Facebook
Twitter
Del.icoi.us
Blogger 











Sabar ya Pak May aja nunggu hampir 2 ...
Terima kasih akhirnya nuptk May sudah...
GAJI POKOK-SERTIFIKASI - alhamdulilla...
PTK - Menulis PTK ternyata macem mace...