Wednesday, August 27, 2014
   
Text Size

Search

Total Dibaca: 1856

Gayus dan Pendidikan Integritas

User Rating: / 3
PoorBest 
KASUS Gayus Tambunan yang diprasangkakan menjadi pelaku korupsi penggelapan pajak, ramai diperbincangkan masyarakat. Tak luput di kalangan para guru dan siswa. Bahkan, di kalangan siswa muncul joke menarik. ‘’Ayo sekolah ke tempat Gayus sekolah, biar menjadi miliarder”.

Gayus ibaratnya menjadi magnet diskusi dan topik bahasan di banyak ruang wacana masyarakat, termasuk dunia pendidikan dan sekolah.

Gayus Tambunan adalah PNS Golongan III alumnus sekolah kedinasan yang yang memiliki aset kekayaan yang luar biasa. Gayus semasa kecil-remaja-muda tergolong sebagai siswa yang cerdas dan pintar, hingga mampu menembus jenjang pendidikan kedinasan yang dianggap bergengsi oleh kalangan siswa berkemampuan pintar.

Namun, sebuah ironi kecerdasan Gayus menjadi antiklimaks, karena tidak bisa mempertahankan ajaran etika dan sikap kejujuran yang dibentuk oleh jenjang pendidikan dasar-menengah.
Masih banyak Gayus yang lain yang mungkin belum terungkap media-publik.

Hal itu menjadi tamparan yang sesungguhnya bagi para guru dan dunia pendidikan. Sebab, sesungguhnya dunia pendidikan gagal membangun internalisasi kesadaran dan keilmuan tentang etika, prinsip sosial, dan kejujuran yang terendap ke dalam watak siswa dalam melakoni dinamika kehidupannya.

Teori Moral

Dunia pendidikan dan sekolah selama ini sekadar mengajarkan “teori” tentang moral, etika, pakta integritas kejujuran dalam bahan ajar yang diujikan secara teoritik, namun ketika di sela-sela pembelajaran nilai dasar kemanusiaan yang beradab sering dicangkokkan kesadaran semu tentang hakikat keberhasilan hidup yang profani.

Tidak mengherankan konstruksi pemikiran dan komitmen siswa tentang keberhasilan adalah sekadar dalam frasa pemahaman tentang “kesuksesan materi dan karier jabatan”.

Hal ini diperparah dengan acara-acara seremoni reuni dan kunjungan alumni yang datang ke sekolah mengabarkan tentang kesuksesan dalam meniti jenjang profesi dan menggapai materi. Namun, tidak pernah ada kejujuran bahwa kesuksesan karier, profesi, dan tumpukan materi dihasilkan dengan cara yang jujur dan mematuhi etika yang berkeadilan.

Hal ini menjadi tugas visioner para guru. Para guru dituntut mengendapkan materi pembelajaran tentang “petuah” bijak tentang kejujuran. Di sela fungsi mengajar, para guru diharapkan senantiasai menyadarkan dan membekali siswa tentang kebanggaan akan moralitas kejujuran. Gayus adalah contoh perilaku ketidakberadaban di tengah kesuksesan karier dan materi.

Pendidikan dasar-menengah seharusnya menjadi fondasi yang mewatakkan etika dan sikap kejujuran, bukannya ilusi tentang sesuatu yang melanggar nilai keberadan.

Para guru mengajarkan tentang sosok-sosok bersahaja yang bisa menjadi panutan sosial. Semoga pendidikan kita tidak memproduksi calon pelanggar integritas kejujuran. 

— Ari Kristianawati, guru SMAN 1 Sragen
 
 
 
sumber : SuaraMerdeka 
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Latest Comments